<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408</id><updated>2011-07-31T15:05:39.192+07:00</updated><category term='Misteri Ip-tek'/><category term='Teknologi Tepat Guna'/><category term='Hot Articles'/><category term='Lingkungan/Kesehatan'/><title type='text'>Welcome to Amiroelstudio</title><subtitle type='html'>Hot articles</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-3396925631168311701</id><published>2009-06-03T23:27:00.003+07:00</published><updated>2009-06-04T00:12:08.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>DI BALIK PERDEBATAN PANAS KAMPANYE PILPRES</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Oleh : Amiroel&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;       Tanpa bermaksud memasuki wilayah teori ekonomi yang bersifat teknis, tulisan ini lebih menyoroti tema kontroversial yang akhir-akhir ini mencuat dalam adu argumentasi kampanye Pilpres. Wacana panas itu tiada lain dan tiada bukan adalah sistem ekonomi neo-liberal versus ekonomi kerakyatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sebagai sebuah dagangan politik ––suka atau tidak, ditepati atau cuma sebatas janji––wacana seperti itu kiranya selangkah lebih maju dan lebih mendidik. Tentu saja dibandingkan jika para politikus hanya menjual kecap sambil berbusa-busa menebar pesona, merasa berjasa, mengedepankan faktor karisma, keunggulan pribadi karena jabatan, keturunan dan faktor-faktor supervisial lainnya. Paling tidak rakyat mulai diperkenalkan dengan sebuah cara berpikir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ke depan&lt;/span&gt; yang berorientasi pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sistem&lt;/span&gt;. Sehingga kian menegaskan bahwa aspek-aspek sistemik ternyata lebih berpengaruh dan menguasai hajat hidup riil orang banyak, dibanding masalah figuritas yang tak mustahil ke depan menjadi ‘tidak terlalu penting’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Namun patut disayangkan, karena ada sementara kalangan yang berusaha membelokkan maknanya, sehingga adu argumentasi ini dikesankan sebagai saling serang yang tidak etis. Pendapat skeptis lain menyatakan, seluruh hingar-bingar wacana di arena publik sama sekali tak berguna, sebab elit sebagaimana biasa akan mengingkarinya saat berkuasa. Tetapi jika kita mau mengambil sisi positifnya, biarlah elit bersilat-lidah di panggung politik, sementara rakyat perlu dibiasakan untuk beradu argumentasi yang bersifat sistemik dan tidak beradu otot. Perkara para elit ketika berkuasa nanti ingkar janji, maka biarlah rakyat yang sedikit demi sedikit mulai disadarkan untuk lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melek sistem&lt;/span&gt; yang akan menghukumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kembali ke masalah perdebatan sengit 2 arus besar sistem ekonomi di atas, maka akhir-akhir ini kita sering disuguhi argumen yang dilontarkan oleh kubu ekonomi kerakyatan, bahwa sistem ekonomi yang berlaku dewasa ini adalah neo-liberal. Argumentasi tersebut didasarkan pada point-point &lt;span style="font-style: italic;"&gt;structural adjustment&lt;/span&gt; sebagai bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;konsensus Washington&lt;/span&gt; yang nyata-nyata diterapkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;status quo&lt;/span&gt; untuk membangun kebijakan-kebijakan ekonominya. Bagi kubu ekonomi kerakyatan, pembentukan policy dan seluruh penerapannya dalam sistem berekonomi selama ini ibarat ‘hard evidence’ yang tak terbantahkan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sementara itu, pendukung neo-liberal tidak akan mau secara frontal berdebat soal butir-butir dari konsensus Washington ini. Mereka cenderung menggaris-bawahi bahwa kubu ekonomi kerakyatan (yang selalu menjadikan Pasal 33 UUD sebagai acuan pembangunan ekonomi yang merata dan berkeadilan), sebagai pihak yang sama sekali tidak mengerti ekonomi. Teori-teori mereka belum matang, condong kepada kebijakan populis namun sangat tidak realistis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Kritik Untuk Kedua Kubu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sekali lagi, perdebatan telah terjadi dan terus akan berlangsung. Namun kalau dipikir lebih mendalam lagi, nampaknya kedua belah pihak masih menunjukkan celah-celah kelemahan dalam membangun argumentasinya. Kelemahan para pengusung gagasan ekonomi kerakyatan adalah: Kurangnya secara total mensosialisasikan sistem yang mereka bawa ke tengah-tengah masyarakat. Perlu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;elaborasi&lt;/span&gt; jitu serta memadai: Paduan antara teori-praksis macam apa yang mereka tawarkan untuk membawa perubahan. Mereka seharusnya memberikan jawaban-jawaban yang merupakan solusi riil untuk mengatasi kerusakan dan dampak buruk praktik-praktik neo-liberal berdasarkan pada bangunan teori ekonomi kerakyatan yang mereka anut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kalau perlu, mereka sudah membentuk dan mengorganisir tim ekonomi yang mewakili paham mereka. Para ekonom ini adalah konseptor-konseptor yang kapabel untuk menerjemahkan konsep-konsep ekonomi kerakyatan ke dalam bentuk implementasinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sedangkan kelemahan para pendukung neo-liberal adalah ‘kekakuan’ mereka dalam menghayati teori-teori ekonomi kapitalis. Kepercayaan mereka sudah sampai pada taraf dogmatis sehingga membuat mereka nampak begitu naif. Yaitu memandang teori-teori ekonomi kapitalistik sebagai satu-satunya kebenaran yang tak ada bandingnya. Kepercayaan-kepercayaan yang sangat dogmatis semacam ini mengakibatkan ‘matinya’ potensi kreativitas yang ada dalam diri mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Peran Rakyat Sebagai Pemilih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Dua kutub teori yang berseberangan tadi akan membawa dampak sosial-ekonomi secara langsung bagi rakyat. Oleh karena itu rakyat sebagai pihak yang semestinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilayani &lt;/span&gt;tidak boleh tinggal diam. Inilah saatnya mereka ikut mengambil peran dan jangan sekali-kali mengumbar argumen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bodoh&lt;/span&gt; seperti yang kerap dilontarkan ke ranah publik: “Apapun sistemnya tidak peduli, yang penting rakyat kenyang!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Rakyat mau tidak mau ––karena tuntutan jaman–– harus mulai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melek sistem&lt;/span&gt; dan sadar bahwa mereka bisa kenyang jika sistem memang bersahabat dengan mereka. Pencerahan semacam ini harus menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;agenda pribadi&lt;/span&gt; rakyat dengan mengembangkan pola mental: Menjadi tahu, menjadi unggul, memilih sistem dan tidak pasrah pada nasib!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Rakyat yang dilatih cerdik tidak hanya akan berpangku-tangan, pasrah dengan harapan perut kenyang siapapun nanti yang akan berkuasa. Perut mereka akan kenyang jika mereka mampu memilih sistem yang cocok untuk mereka. Maka saat kampanye seperti ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan penawaran kepada siapapun yang hendak berkuasa, sekaligus menguji kedua sistem yang saat ini bertarung: Sistem manakah yang mampu melayani dan mensejahterakan mereka dengan lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sebagai contoh dalam kasus BLT. Program ini ibaratnya adalah katup pengaman dari sejumlah kebijakan bercorak neo-liberal yang secara parsial merugikan rakyat. Maka rakyat bisa mengajukan hak tawar-menawarnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, dengan memakai asumsi Indeks Kemiskinan versi BPS: Rp.182.636/kapita/ bulan (taraf hidup dengan penghasilan sebesar itu bisa dikatakan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyaris lapar)&lt;/span&gt;, sebagai pijakan perlunya kelompok masyarakat semacam ini menjadi tanggungan mutlak negara. Maka rakyat boleh menuntut untuk menguji kedua sistem di atas, manakah sistem yang bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengalih-fungsikan&lt;/span&gt; sekaligus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melembagakan&lt;/span&gt; BLT sebagai fungsi&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; jaminan sosial&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yang permanen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, untuk mengejar tingkat penghasilan yang setaraf dengan Indeks Kemiskinan menurut Bank Dunia sebesar 2 $/kapita/hari, maka harus dikembangkan secara massif sektor-sektor produktif melalui program-program UKM yang riil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kedua tuntutan di atas sebenarnya tidaklah terlalu muluk, sekaligus untuk menguji: Apakah sistem neo-liberal yang selama ini diterapkan, ataukah sistem ekonomi kerakyatan yang mampu menjawab tantangan yang disodorkan oleh rakyat. Tentu saja tuntutan sederhana semacam ini hanyalah cara awal rakyat untuk ‘mendikte’ para pemimpin yang hendak berkuasa. Dan suatu saat bangsa ini akan sedikit demi sedikit sampai pada taraf itu, atau bahkan jauh lebih baik lagi. Tentu saja, jika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;para benalu &lt;/span&gt;yang tumbuh di atas sana tidak diberi tempat dan kesempatan untuk membuat rakyat tetap bodoh!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-3396925631168311701?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/3396925631168311701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/06/di-balik-perdebatan-panas-kampanye.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/3396925631168311701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/3396925631168311701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/06/di-balik-perdebatan-panas-kampanye.html' title='DI BALIK PERDEBATAN PANAS KAMPANYE PILPRES'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-484963460385824932</id><published>2009-06-02T01:41:00.003+07:00</published><updated>2009-06-02T01:58:13.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>PANCASILA  SEBUAH IDEOLOGI RASIONAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Oleh: Amiroel&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekawatiran bahwa Pancasila telah diabaikan dan tidak lagi menjadi pembahasan serta diskusi publik mulai menyeruak. Paling tidak, begitulah menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, di mana banyak pejabat negara yang tidak lagi menempatkan Pancasila sebagai salah satu landasan dalam sebuah kebijakan. Kondisi ini sangat berbahaya kalau Pancasila tidak lagi menjadi perekat kebangsaan dan sebagai dasar negara yang kuat…. (Kedaulatan Rakyat, Minggu 31 Mei 2009).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Memang harus diakui kondisi saat ini teramat kontras jika dibandingkan dengan jaman Or-ba, ketika Pancasila tertanam sedemikian kuatnya di benak publik. Bahkan pada saat itu suara-suara berbeda yang ditengarai menyimpang dari Pancasila bisa dituding sebagai tidak Pancasilais sekaligus beresiko dituduh subversif. Namun mengkomparasikan pemahaman kita tentang Pancasila di era yang berbeda ini tidak lantas memberikan gambaran bahwa pada era Or-ba manusia Indonesia jauh lebih Pancasilais daripada era tahun 2000-an. Malahan patut disinyalir sejak kemerdekaan RI ––secara substantif–– bangsa Indonesia sebenarnya telah gagal untuk benar-benar sampai pada pemahaman utuh mengenai Pancasila (teori-praksis) sebagai sebuah ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Memang benar, jika akhir-akhir ini Pancasila diabaikan. Namun pemahaman secara membabi-buta hingga sampai kepada sakralisasi, dogmatisme, penuh mitos dan pendewaan seperti jaman Or-ba, tetap saja menyesatkan bangsa ini hingga jatuh ke dalam kategori tidak Pancasilais pula. Kenapa bisa begitu?! Bangsa ini sejatinya belum pernah berhasil menjadi bangsa yang Pancasilais, selagi dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegaranya tak pernah terbebas dari tarik-menarik antara dua kutub besar: Kalau tidak terlalu ke kiri, maka haluannya terlalu ke kanan. Ke kiri sampai hampir masuk ke jurang komunisme dan ke kanan hingga menjadi sangat kapitalis. Pancasila yang diabaikan membuat sistem yang dianut jauh dari Pancasila, sedangkan sakralisasi Pancasila yang berlebihan justru membuat Pancasila menjadi terlalu abstrak. Sementara dalam implementasinya sama-sama jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Kegagalan-kegagalan yang berulang ini membuat Pancasila tidak lebih sebagai jargon-jargon muluk dengan kesenjangan menganga terhadap realitas. Sebagai sebuah konsep, Pancasila menjadi terlalu sempurna namun tak pernah berhasil diimplementasikan ke wilayah kongkrit. Pancasila pernah menjadi sumber teror dan ketakutan yang bisa membuat orang dipenjara, di sisi lain (seperti saat ini) Pancasila justru disingkirkan jauh-jauh dan kita menjadi bangsa yang lebih kapitalis daripada bangsa-bangsa yang melahirkan kapitalisme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Tentu saja kegagalan ini selayaknya membuat kita berintrospeksi. Semuanya harus diletakkan pada porsinya. Pancasila bukanlah kumpulan nilai-nilai kosong, bukan pula kumpulan ayat-ayat penuh dogma. Harus ada pemahaman baru dengan semangat baru yang lebih masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Salah satu tawaran ide pendekatan baru terhadap Pancasila adalah: Memandang Pancasila dengan cara pandang rasional. Pada level rakyat, maka rakyat sejatinya terus-menerus dicerdaskan dan digiring untuk memahami Pancasila melalui pendekatan rasional ini. Sehingga perlu penjelasan memadai kepada mereka tentang sebuah logika berpikir: Bahwa Pancasila adalah sebuah sistem buatan bangsa ini untuk melindungi kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Orang harus dibiasakan untuk memahami, bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;relasi &lt;/span&gt;antara individu-masyarakat-bangsa terhadap ideologi Pancasila adalah sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;relasi&lt;/span&gt; ‘kebutuhan’. Orang membutuhkan Pancasila karena membutuhkan sebuah sistem jitu yang bisa membebaskan mereka dari penindasan. Orang membutuhkan Pancasila karena ekonomi kerakyatan yang berlandaskan Pancasila akan mengentaskan mereka dari belenggu kemiskinan dengan konsep pemerataan yang berkeadilan. Orang membutuhkan Pancasila karena kebutuhan akan pentingnya sebuah ideologi moderat yang mampu mengayomi semua golongan, sehingga mempersatukan seluruh elemen bangsa ini menjadi persatuan satu bangsa yang kuat sekaligus berdaulat. Demikian seterusnya, yang pada pokoknya memberikan gambaran kongkrit bahwa Pancasila merupakan ideologi yang dibutuhkan oleh semua orang (Indonesia) sebagai hasil dari ciptaan bangsa sendiri untuk mengatur diri-sendiri pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Maka selayaknya para pemikir menciptakan sistem-sistem yang mengatur perikehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengacu pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tersebut. Misalnya dari sudut politik, harus diciptakan sistem berdemokrasi yang kian matang, dst. Dalam bidang ekonomi perlu elaborasi lebih detail, termasuk ke wilayah praksis tentang pola ekonomi yang berazaskan Pancasila. Misalnya jika ekonomi kerakyatan dinilai sebagai manifestasi ekonomi Pancasila, maka para ekonom-teknokrat perlu merumuskan secara detail sistem ekonomi tersebut sampai ke tingkat implementasi yang riil. Sehingga kian bisa dibedakan mana ekonomi yang benar-benar Pancasilais dan mana yang murni neo-liberal atau minimal pseudo-Pancasilais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Pada akhirnya, Pancasila sebagai sebuah ideologi rasional bukanlah semata-mata menjadi objek filsafat yang idealistik. Tetapi lebih dari itu, dalam kacamata rasional maka Pancasila yang abstrak harus bertransformasi ke wilayah kongkrit. Alhasil Pancasila &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an-sich &lt;/span&gt;adalah kongkrit. Maka tak perlu lagi ada seorang pejabat negara yang merasa gusar saat dituduh sebagai seorang neo-liberal, sejauh dia bisa membuktikan dengan argumentasi logis-rasional sistem ekonomi yang dia anut apakah sesuai dengan amanah Pancasila atau tidak. Sebab jika sistem ekonomi yang berlaku ternyata hanyalah wujud implementasi tanpa reserve &lt;span style="font-style: italic;"&gt;structural adjustment&lt;/span&gt; konsensus Washington semata, maka semua bantahan tadi menjadi gugur. Bagaimanapun juga, orang yang menggunakan rasio tidak mudah ditipu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-484963460385824932?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/484963460385824932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/06/pancasila-sebuah-ideologi-rasional.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/484963460385824932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/484963460385824932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/06/pancasila-sebuah-ideologi-rasional.html' title='PANCASILA  SEBUAH IDEOLOGI RASIONAL'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-6867105338431958865</id><published>2009-05-24T00:37:00.004+07:00</published><updated>2009-05-24T00:45:40.106+07:00</updated><title type='text'>KEHIDUPAN KAUM AMISH YANG UNIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Shg1iE9WvjI/AAAAAAAAAVE/Duvz1MLKTXo/s1600-h/AmishInWinterInternet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Shg1iE9WvjI/AAAAAAAAAVE/Duvz1MLKTXo/s400/AmishInWinterInternet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339076217810632242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Musim dingin di perkampungan Amish&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum Amish adalah penganut sebuah sekte keagamaan yang tinggal di wilayah Lancaster County, kira-kira 100 km dari Philadelphia ke Strassburg, dan hanya berkisar 3 jam dari Maryland. Walaupun keberadaan pemeluk sekte ini meluas hingga ke 22 negara bagian Amerika Serikat, namun Lancaster County secara khusus amat membanggakan diri sebagai cikal-bakal kaum Amish Amerika. Bahkan Pemda setempat mempromosikan daerah ini sebagai "jantung Pennsylvania", serta dijuluki Pennsylvania Dutch Country. Penyebutan Dutch sebenarnya merupakan "pelesetan" dari kata Deutsch, yang berarti Jerman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang, di Lancaster ciri Jerman tetap mereka pertahankan melalui bahasa. Warga Amish rata-rata bisa bicara dalam tiga bahasa: Jerman, Pennsylvania Dutch (Jerman berdialek Pennsylvania), dan Inggris. Semua upacara agama dan adat-istiadat berlangsung dalam bahasa Jerman "tinggi". Untuk percakapan sehari-hari, cukup dengan Pennsylvania Dutch. Sedangkan pertalian dengan kaum English—begitulah orang Amish menyebut warga non-Amish—dibina melalui Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai sebuah sekte keagamaan, The Amish menyempal dari akar mainstream Katolik Roma. Mereka menganut ajaran Anabaptis yang didirikan oleh Pendeta Jacob Amman dari Swiss pada 1693. Anabaptis mengharuskan pembaptisan kembali setelah dewasa—ini berbeda dengan tradisi Katolik yang membaptis pengikutnya sejak bayi. Sebutan Amish berasal dari nama Amman, yang berarti pengikut Amman. Sekte-sekte ini muncul menyusul gerakan reformasi terhadap ajaran Gereja Katolik Roma yang diprakarsai tokoh Protestan Martin Luther pada tahun 1517.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena tekanan yang luar biasa di daratan Eropa terhadap para penentang agama Katolik di masa itu membuat para penganut Amish melarikan diri ke Amerika bersama kaum Mennonite—sekte lain yang juga menganut Anabaptis. Dari segi sejarah, keyakinan dan adat-istiadat, Amish dan Mennonite bisa dikatakan "bersepupu". Bedanya, Mennonite jauh lebih terbuka terhadap perubahan. Mereka menerima teknologi modern hingga pendidikan tinggi Sedangkan kaum Amish rata-rata hanya mengenyam pendidikan dasar selama delapan tahun. Mereka menyelenggarakan sekolah-sekolah khusus yang diajar oleh guru-guru Amish pula.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum Amish tiba di Philadelphia dari Eropa pada 2 Oktober 1727 dengan menumpang kapal The Adventure. Sebagai petani-petani yang hebat, segera saja mereka mencium betapa Lancaster County—sekitar 100 km dari Philadelphia—diberkati dengan "kesuburan segala musim". Maka, para imigran Jerman dan Swiss itu mulai menata hidup di sana. Mereka bertani, beternak, beranak-pinak, sembari mempertahankan agama dan tradisi dengan ketat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka menolak kekerasan serta keterikatan kepada "dunia": tidak ada listrik, teknologi modern, ataupun segala bentuk hedonisme. Di rumah-rumah mereka, listrik, mobil, dan musik adalah haram. Telpon tidak boleh ada di dalam rumah, tetapi box telpon di halaman luar masih bisa ditoleransi. Sebagai petani-petani yang handal dan ulet mereka tidak menggunakan traktor-traktor modern, namun lebih memilih menggunakan bajak yang ditarik kuda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Transportasi mereka hanyalah sepeda, gerobak, buggy (kereta kuda) dengan roda besi. Mereka tidak boleh mengganti rodanya dengan roda karet, supaya tidak bisa terlalu jauh bepergian dari wilayah komunitasnya. Mereka menggunakan mobil hanya dalam keadaan darurat: misalnya mengangkut orang sakit dengan ambulans.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka hidup dengan cara yang amat sederhana. Tidak ada perhiasan, parfum, dan bunga. Bahkan upacara perkawinan dilakukan tanpa cincin. Dalam berbusana tidak mengikuti mode masa kini dan hanya mengenal warna hitam, putih, dan biru. Kaum wanita memakai kerudung, bergaun hitam pekat berlengan panjang, berkerut di pinggang, memanjang hingga mata kaki. Lehernya tertutup, lengan baju menjulur hingga pergelangan. Topi kain berwarna putih menutupi tengah kepala ke belakang, ditalikan di bawah sanggul. Kaum pria dan para bocah lelaki bercelana hitam dipadu kemeja putih yang diberi suspender. Di kepala mereka, tersungkup topi hitam berpinggir lebar. Pakaian yang mereka kenakan itu berkancing dan dijahit sendiri ––tanpa bantuan mesin–– oleh para istri atau ibu mereka. Semua pria dewasa bercambang lebat menyentuh dada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dasar hubungan yang diajarkan dalam sekte ini adalah kekerabatan, kesederhanaan, pelayanan, serta keterpisahan dari dunia luar. Tak mengherankan jika mereka mengambil jarak betul dengan warga di luar komunitas. Jangankan dengan orang asing, dengan kaum "English" yang sekota pun belum tentu mereka bersikap terbuka. Dengan ketertutupan yang sedemikian, tak heran jika masyarakat Amish juga enggan disorot oleh kamera maupun difoto. Dan sebagian besar tak suka diajak bicara masalah kehidupan pribadi. Kehidupan mereka ––bagaimanapun juga–– adalah kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk suara mesin dan tak tersentuh teknologi mutakhir. Masyarakat Amish benar-benar seperti hidup di masa lalu. Sebuah kehidupan unik yang sekaligus juga menciptakan sebuah paradoks: Di tengah wajah Amerika yang super-modern, komunitas ini seolah-olah tak tersentuh oleh secuilpun modernisasi!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*(Sumber: Lands And Peoples; Tempo, 10 Februari 2003; dll)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-6867105338431958865?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/6867105338431958865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/kehidupan-kaum-amish-yang-unik_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6867105338431958865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6867105338431958865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/kehidupan-kaum-amish-yang-unik_24.html' title='KEHIDUPAN KAUM AMISH YANG UNIK'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Shg1iE9WvjI/AAAAAAAAAVE/Duvz1MLKTXo/s72-c/AmishInWinterInternet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-5748925046526213497</id><published>2009-05-17T20:23:00.006+07:00</published><updated>2009-05-17T21:01:35.821+07:00</updated><title type='text'>About Us</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/ShARhk39gUI/AAAAAAAAAUs/aeWo6p8I2-M/s1600-h/fotmir2Internet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 187px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/ShARhk39gUI/AAAAAAAAAUs/aeWo6p8I2-M/s200/fotmir2Internet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336784826965786946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 51, 0);font-size:180%;" &gt;Saya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);"&gt;, Amiroel, tinggal di Yogyakarta,Indonesia. Sebuah daerah yang sangat kaya dengan warisan budaya, daerah pariwisata yang amat memikat dan sangat khas. Pemandangannya demikian indah dan menyenangkan dengan nuansa tropikal yang amat kental. Saya sangat gemar membaca buku, terutama buku-buku yang bertema tentang sastra, filsafat, agama, dan pengetahuan populer lainnya. Khusus mengenai sastra, saya adalah penggemar berat sastrawan-sastrawan Rusia, terutama Chekov, Tolstoy dan juga Dostoyevsky. Tetapi secara umum saya menyukai karya-karya sastra klasik. Kepada siapapun anda dimanapun anda berada, saya sangat membuka diri untuk saling mengenal, bertukar pikiran dalam topik apa saja, atau sekedar bersahabat dan berbagi baik dalam suka maupun duka…. Selamat datang dan selamat menikmati …!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="widget-content"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;E-mail : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Amiroelstudio@Yahoo.com&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt; Jauh Mengenai Saya....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/ShAQpb2Sp0I/AAAAAAAAAUk/H_HcO_MgbCk/s1600-h/fotmir2Internet.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;ul style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Jenis Kelamin:&lt;/strong&gt; Pria&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tanda Astrologi:&lt;/strong&gt; Virgo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Lokasi:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=l&amp;amp;loc0=ID&amp;amp;loc1=DIY&amp;amp;loc2=yogyakarta"&gt;yogyakarta&lt;/a&gt; : &lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=l&amp;amp;loc0=ID&amp;amp;loc1=DIY"&gt;DIY&lt;/a&gt; : &lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=l&amp;amp;loc0=ID"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Minat&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Saya berminat terhadap semua karya senirupa, karya sastra dan filsafat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:12;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:12;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Film Favorit&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=i&amp;amp;q=Saya+berminat+terhadap+semua+karya+senirupa"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0); text-decoration: none;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=m&amp;amp;q=Misissipi+Burning"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0); text-decoration: none;"&gt;Misissipi Burning, X-files&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:12;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt;Musik Favorit&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=s&amp;amp;q=Simon%26Garfunkle"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0); text-decoration: none;"&gt;Simon &amp;amp; Garfunkle&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:12;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);font-size:12;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;a href="http://aboutamiroel.blogspot.com/profile-find.g?t=b&amp;amp;q=Filsafat+dan+Agama"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0); text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-5748925046526213497?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/5748925046526213497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/about-us_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/5748925046526213497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/5748925046526213497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/about-us_17.html' title='About Us'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/ShARhk39gUI/AAAAAAAAAUs/aeWo6p8I2-M/s72-c/fotmir2Internet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-2656051440229457958</id><published>2009-05-16T02:02:00.001+07:00</published><updated>2009-05-16T02:12:17.255+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan/Kesehatan'/><title type='text'>TUJUH MITOS KESEHATAN YANG MENYESATKAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;London, Senin&lt;/span&gt; - Banyak di antara kita yang masih memegang teguh kebiasaan atau pun anggapan yang berkembang di masyarakat termasuk yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Sebut saja nasehat meminum delapan gelas air putih setiap hari, atau pun larangan membaca di tempat remang-remang karena dapat merusak mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada pula yang percaya bahwa manusia hanya menggunakan 10 persen dari kemampuan otaknya, atau pun anggapan bahwa mencukur bulu akan menyebabkan rambut tumbuh lagi dengan cepat dan lebih tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian,  anggapan tersebut menurut para ahli justru tak ada nilai kebenarannya.  Hal tersebut terungkap lewat hasil riset para ahli dari Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam British Medical Journal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para peneliti berhasil mengungkap setidaknya tujuh mitos yang berhubungan dengan kesehatan. Beberapa di antaranya menyesatkan dan beberapa lainnya tidak ada bukti yang kuat. Dalam risetnya, para ahli dari Indiana University School of Medicine di Indianapolis mengumpulkan literatur medis untuk membuktikan setiap anggapan atau mitos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasilnya, mereka tak menemukan bukti kuat yang mendukung manfaat dari mitos meminum delapan gelas air setiap hari.  Faktanya, hasil penelitian membuktikan bahwa asupan cairan yang cukup ke dalam tubuh seharusnya terpenuhi dengan meminum jus, susu , dan bahkan minuman berkafein seperti teh atau kopi. Data juga mengindikasikan bahwa meminum air secara berlebihan justru dapat membahayakan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anggapan bahwa manusia hanya menggunakan 10 persen otaknya juga tidak benar adanya. Riset terhadap pasien penderita kerusakan otak menunjukkan kerusakan pada hampir setiap bagian otak memiliki dampak yang spesifik dan lama terhadap mental, vegetatif dan kemampuan berprilaku. Riset tentang pencitraan otak pun menunjukkan tidak ada satu pun daerah dalam otak yang benar-benar "diam" atau pasif.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, mitos bahwa rambut atau kuku akan terus tumbuh setelah kematian mungkin hanya sebuah ilusi optik yang disebabkan oleh pengencangan kembali kulit setelah mati. Pertumbuhan rambut dan kulit yang sebenarnya membutuhkan peran dan pengaruh hormonal yang tentunya tidak akan berfungsi setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang diungkapkan penulis riset, Rachel Vreeman, ilusi kembali menjadi penyebab berkembangnya mitos mencukur bulu menyebabkan rambut tumbuh lebih cepat, lebih hitam dan kasar. Kenyataannya bulu yang baru dicukur tampak tumbuh kembali tanpa adanya ujung rambut yang biasanya tampak pada bagian yang tak dicukur. Alhasil, rambut tampak lebih kasar dan lebih tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mitos lainnya yakni membaca di tempat yang kurang terang pun  menurut penelitian tidak terbukti akan merusak mata. Sementara itu, hanya sedikit saja bukti yang mendukung terhadap pelarangan telepon selular di rumah sakit. Bukti itu berkaitan dengan kemungkinan pengaruh gelombang elektromagnetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu mitos terakhir tentang konsumsi kalkun dapat menimbulkan kantuk karena kandungan asam amino tryptophan juga tidak benar adanya.  Kenyataannya, baik kalkun, ayam atau pun daging sapi mengandung tryptophan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Setiap konsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan kantuk karena aliran darah dan oksigen ke otak menurun. Sementara itu makanan yang kaya protein atau karbohidrat dapat menyebabkan kantuk. Anggur juga bisa berperan," ungkap peneliti. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BBC/ac)&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber: Kompas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-2656051440229457958?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/2656051440229457958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/tujuh-mitos-kesehatan-yang-menyesatkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/2656051440229457958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/2656051440229457958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/tujuh-mitos-kesehatan-yang-menyesatkan.html' title='TUJUH MITOS KESEHATAN YANG MENYESATKAN'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-4324648850334518051</id><published>2009-05-16T01:11:00.015+07:00</published><updated>2009-05-24T01:06:23.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misteri Ip-tek'/><title type='text'>MISTERI LEDAKAN MENGERIKAN TUNGUSKA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada pagi hari tanggal 30 Juni 1908, kafilah-kafilah di gurun Gobi menyaksikan sebuah bola api menyala dan yang meluncur dengan cepat di langit untuk akhirnya lenyap di sebelah utara tapal batas Mongolia. Beberapa saat kemudian sebuah ledakan berkekuatan 1.000 kali bom atom yang menghancurkan Hiroshima seabad silam meluluhlantakkan wilayah di Tunguska, Siberia Tengah, Rusia, yang tercatat pada seismograf-seismograf di Irkutsk (880 km ke selatan), Moskow (5000 km) ke barat, St. Petersburg (Leningrad sekarang) dan bahkan sejauh Washington dan Jakarta. Bola api yang terjadi juga sangat kuat sehingga tercatat bahwa warga London, yang saat itu masih malam, bisa membaca koran tanpa lampu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg2zvy2U9pI/AAAAAAAAAT0/3RxdfOBBFMQ/s1600-h/tungushkaFoto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg2zvy2U9pI/AAAAAAAAAT0/3RxdfOBBFMQ/s200/tungushkaFoto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336118767188768402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beruntung, ledakan itu terjadi di wilayah yang sangat terpencil dan tak berpenghuni. Hunian terdekat berjarak ratusan kilometer dari Sungai Tunguska, tempat ledakan terjadi. Para saksi, bagaimana pun, masih bisa bercerita. Suku nomaden Evenki berkisah bahwa ledakan itu melemparkan rumah dan binatang ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para saksi mata juga menyatakan, ledakan yang meruntuhkan semua pohon––sekitar 80 juta batang––pada radius 2.000 meter persegi itu diawali dengan kilatan cahaya panjang. Versi yang lain melaporkan, timbulnya tiang api yang menjulang setinggi langit, disusul oleh gelombang panas, serangkaian dentuman menggelegar, gelombang-gelombang angin sekencang taufan dan turunnya hujan yang berwarna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg20cxqOzRI/AAAAAAAAAT8/AuJvfvTfuHM/s1600-h/tungushkaPeta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 175px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg20cxqOzRI/AAAAAAAAAT8/AuJvfvTfuHM/s400/tungushkaPeta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336119539963710738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Spekulasi Penyebab Ledakan Tunguska&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 19 tahun kejadian mengerikan itu, dikirimlah sebuah ekspedisi ilmiah di bawah pimpinan Prof. L. Kulik, yang kemudian diulangi lagi pada tahun-tahun 1928 dan 1929. Fakta-fakta yang dikumpulkan mengagumkan dunia ilmu pengetahuan: daerah hutan yang berbentuk lonjong dengan ukuran kurang lebih 25 x 15 km mengalami kehancuran total, sedang lingkaran luar dengan ukuran kurang lebih 50 x 45 km mengalami kerusakan berat. Prof. Kulik almarhum ialah seorang ahli meteorit dan sampai akhir hayatnya mencoba dengan sia-sia untuk membuktikan adanya "Meteor Tunguska".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg22WMeF9MI/AAAAAAAAAUU/K8QH3g1cdbg/s1600-h/tungushkaFotoAsteroid.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg22WMeF9MI/AAAAAAAAAUU/K8QH3g1cdbg/s200/tungushkaFotoAsteroid.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336121625924728002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Walaupun begitu, kambing hitam paling utama dari mana ledakan itu berasal tetap dialamatkan ke asteroid, meteor atau komet yang setelah berkelana jutaan tahun, pada 30 Juni 1908 pukul 07.17, menabrak bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan Tunguska semula diperkirakan hasil luncuran asteroid bergaris tengah 50-80 meter. Namun, ilmuwan di Laboratorium Nasional Sandia, Amerika Serikat, setelah mencoba membuat tiruan ledakan Tunguska, menyatakan asteroid itu hanya bergaris tengah beberapa meter. Ukuran asteroid lebih kecil itu muncul, menurut Mark Boslough, salah satu peneliti di Sandia, Katena, karena, "Model baru ini memasukkan momentum udara yang tertekan di depan obyek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat asteroid masuk atmosfer, kecepatannya 15 kilometer per detik pada sudut 35 derajat. Gelombang yang dihasilkan bisa menumbuk bumi pada kecepatan 180 kilometer per jam ––kira-kira setara angin hurricane kategori III. Ledakan itu tidak menghasilkan kawah di pusat ledakan karena meletus pada ketinggian 6-8 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan seperti Tunguska––tapi dengan ukuran jauh lebih kecil––menurut seorang ahli dari Imperial College, London, sering terjadi. Philip A. Bland, ahli itu, mengatakan ledakan akibat meteor ini rata-rata terjadi seminggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan terbesar terjadi pada 1990 dengan kekuatan belasan kiloton, yang merupakan hasil luncuran asteroid berdiameter 1 meter. Sedangkan ledakan seperti Tunguska, Bland mem¬perkirakan terjadi setiap 500 tahun sekali.&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang satu: di mana sisa atau remah-remah bebatuan ruang angkasa jika itu memang meteor? Menemukan remah-remah asteroid, komet, atau benda angkasa lain ini penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini akan meningkatkan pengetahuan kita bagaimana tingkat risiko obyek dekat bumi berbahaya," tutur tiga peneliti Italia, yaitu Luca Gasperisni, Enrico Bonatti, dan Giuseppe Loppo.&lt;br /&gt;Jika sebuah asteroid baru ditemukan, orbitnya bisa dihitung beberapa tahun sebelumnya. Jika berbahaya, bisa dilakukan cara agar asteroid itu tidak menabrak. "Jika asteroid yang meledak di langit Siberia pada Juni pagi itu, mengapa sampai sekarang belum ditemukan remah-remahnya?" ungkap tim itu dalam Scientific American.&lt;br /&gt;Peneliti Italia itu percaya bahwa remah-remah tersebut menghasilkan sebuah telaga, bernama Danau Cheko, yang berada sekitar 10 kilometer dari titik pusat ledakan. Danau Cheko memiliki lebar 8 kilometer. Dasarnya berbentuk corong sedalam 50 meter. Yang terpenting, danau itu terletak di garis luncur benda langit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model komputer yang mereka buat menyebutkan, sebuah bongkahan bergaris tengah satu meter "selamat" dari ledakan tersebut. Tim ini berencana mencari sisa remah-remah ledakan itu, yang sudah tampak pada layar sonar berada 10 meter di bawah dasar danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gareth Collins, dari Imperial College London, teori ini lemah. Alasannya, mestinya serpihan benda langit akan menciptakan beberapa danau. Selain itu, tanah di sekitar danau tidak tertutup lapisan tanah yang terkena hantaman asteroid. Gambar danau pada 1930-an juga memperlihatkan pohon di sekitar danau sudah tampak berusia lebih dari 30 tahun. Ini tanda bahwa wilayah itu tidak muncul akibat asteroid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan atas teori danau juga diungkapkan pakar fisika dari Universitas Bonn, Jerman, Wolfgang Kundt. Alasannya, bentuk Danau Cheko bukan corong seperti kawah hasil tabrakan. Selain itu, tidak ada benda angkasa yang ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kundt lebih percaya ledakan itu hasil semburan gas metana dari dalam bumi. Biasanya ini ledakan yang membuat permata muncul ke permukaan. Sebanyak 10 juta ton metana akan muncul. Ledakan ini bisa menghancurkan permukaan bumi. Ini bukan hal baru. Ledakan seperti ini juga menciptakan blake ridge di dasar laut lepas pantai Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan di Tunguska mencirikan sebuah ledakan nuklir. Ciri-ciri itu antara lain ialah bahwa pohon-pohon di hutan sekitarnya yang selamat dari ledakan, memperlihatkan lingkaran tahunan yang lebih gemuk untuk tahun 1908 daripada tahun-tahun lainnya. Dari keadaan pohon-pohon yang hangus terbakar juga dapat disimpulkan, bahwa ledakan yang memancarkan panas itu terjadi bukannya di permukaan bumi melainkan di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga telah ditemukan butir-butir magnetit ukuran mikroskopis di samping butir-butir silikat seperti kaca yang kadang-kadang mengandung partikel besi. Bahan-bahan yang sama ditemukan sehabis percobaan-percobaan nuklir di Alamogordo, Amerika Serikat, dan terbentuk oleh suhu sangat tinggi dari ledakan nuklir. Menurut perkiraan, ledakan maha dahsyat di Siberia pada tahun 1908 itu berkekuatan 30 megaton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua dasawarsa terakhir ini telah terungkap perspektif lain terhadap teka-teki Tunguska dengan adanya penelitian oleh ahli-ahli aerodinamika dan ahli-ahli peroketan, yang dipelopori oleh Dr. Felix Zigel. Analisa dari laporan para saksi, bukti-bukti dari gelombang balistik dan bentuk daerah kerusakan menunjukkan bahwa lintasan yang ditempuh oleh benda dari kosmos itu bukanlah lurus, melainkan semula datang dari arah selatan, di atas desa Keshma membelok ke timur dan diatas desa Preobrazhenka berubah arah ke barat. Tiba di sebelah utara desa Vanavara terjadilah ledakan maha dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintasan yang berbelok-belok itu tidak mungkin dilakukan oleh suatu benda alamiah, melainkan hanya dapat dilakukan oleh suatu benda buatan, sehingga timbullah dugaan bahwa penyebabnya ialah UFO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa wahana antariksa dari luar bumi itu ada dua macam, meskipun kedua-duanya berdasarkan anggapan bahwa telah terjadi suatu ketidakberesan teknis. Yang satu mengira bahwa terjadi kerusakan pada sistem propulsinya sehingga terjadilah ledakan maha dahsyat yang memusnahkan tamu dari luar bumi tadi. Hanya butiran mikroskopis saja yang masih tertinggal yang merupakan sisa dari wahana antariksa semula.&lt;br /&gt;Hipotesa yang lain mengira, bahwa obyek dari kosmos itu mengalami kesulitan dalam sistem pengemudian sehingga hampir membentur permukaan bumi. Maka dari itu pada saat terakhir ia terpaksa melakukan koreksi arah dengan menyalakan motor roket nuklirnya, sehingga ia &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg21qEKTFwI/AAAAAAAAAUM/PE_-DUAu34o/s1600-h/blackhole.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg21qEKTFwI/AAAAAAAAAUM/PE_-DUAu34o/s200/blackhole.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336120867779974914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;berhasil meninggalkan bumi untuk selanjutnya meneruskan perjalanannya ke arah Planet Venus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah ilmuwan lain bahkan berspekulasi bahwa peristiwa Tunguska dipicu oleh ‘mini’ black hole yang bertabrakan dengan bumi. Nampaknya teori-teori yang kian fantastik ini makin menambah saja kemisteriusan peristiwa ledakan Tunguska 100 tahun silam itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;www.tunguska101.org&lt;br /&gt;Saltun J. Book, Tunguska Mystery&lt;br /&gt;Koran Tempo 3 Juli 2008&lt;br /&gt;Popular Science&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-4324648850334518051?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/4324648850334518051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/ledakan-mengerikan-tunguska_16.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/4324648850334518051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/4324648850334518051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/ledakan-mengerikan-tunguska_16.html' title='MISTERI LEDAKAN MENGERIKAN TUNGUSKA'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/Sg2zvy2U9pI/AAAAAAAAAT0/3RxdfOBBFMQ/s72-c/tungushkaFoto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-3277892593048013033</id><published>2009-05-13T03:56:00.003+07:00</published><updated>2009-05-13T04:08:09.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Misteri Ip-tek'/><title type='text'>BENUA ATLANTIS ITU (TERNYATA) INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; MUSIBAH alam beruntun dialami &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of &lt;span class="yshortcuts"&gt;Plato&lt;/span&gt;'s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Sistem terasisasi sawah yang khas &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Konteks &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan kebetulan ketika &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; pada tahun 1958, atas gagasan Prof.Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan &lt;span class="yshortcuts"&gt;India&lt;/span&gt;, &lt;span class="yshortcuts"&gt;Sri Lanka&lt;/span&gt;, &lt;span class="yshortcuts"&gt;Sumatra&lt;/span&gt;, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis  merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di &lt;span class="yshortcuts"&gt;India &lt;/span&gt;Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang  berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Stephen Hawking&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Brazil&lt;/span&gt; itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke  samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh&lt;br /&gt;Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica  veritas." Artinya,"Saya senang kepada&lt;br /&gt;Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa  ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa &lt;span class="yshortcuts"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan&lt;br /&gt;bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law&lt;br /&gt;(IISL), Paris-Prancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- Original Message ----&lt;br /&gt;From: Ahmad Samantho &lt;ay_samantho@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;To: Nike &lt;emiliaaz@yahoo.com&gt;; Jalal &lt;jalaluddinr@yahoo.com&gt;; Abdul Hadi WM &lt;hadiwm@yahoo.com&gt;; aan rukmana &lt;aanrukmana@gmail.com&gt;; Armahedi Mahzar &lt;armahedi@yahoo.com&gt;; smansa &lt;sma1bgr-83@googlegroups.com&gt;; ahmed pay &lt;paysophi@yahoo.com&gt;; Asad amiroel &lt;amiroelstudio@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Sent: Saturday, February 2, 2008 3:29:40 PM&lt;br /&gt;Subject: Benua Atlantis itu ternyata Indonesia = Surga Eden = Induk Peradaban-perdaban Besar Dunia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-3277892593048013033?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/3277892593048013033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/benua-atlantis-itu-ternyata-indonesia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/3277892593048013033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/3277892593048013033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/benua-atlantis-itu-ternyata-indonesia.html' title='BENUA ATLANTIS ITU (TERNYATA) INDONESIA'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-9126153566139412148</id><published>2009-05-13T03:24:00.005+07:00</published><updated>2009-05-16T02:02:02.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan/Kesehatan'/><title type='text'>FACTS ABOUT PLASTIC WASTES</title><content type='html'>&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="f44e5a61dfd910693c2edc04929724a2" type="hidden"&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="note_header"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;div class="note_title"&gt;&lt;span&gt;Oleh: Indah Puspita&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="byline"&gt;08 Mei 2009 jam 11:54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30441925&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=78398178817&amp;amp;aid=-1&amp;amp;oid=78398178817&amp;amp;id=1009417210"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs033.snc1/3235_1139334596099_1009417210_30441925_5400077_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Diperkirakan 6.4 juta ton sampah masuk ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia (disadur dari data National Academy of Sciences)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;     Perkiraan lainnya juga mengatakan sebanyak 8 juta potong sampah masuk ke laut setiap harinya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu depresi.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;     Lebih dari 80% sampah plastik di seluruh dunia langsung dibuang ke tempat sampah yang akhirnya ke laut tanpa di daur ulang&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     90% dari seluruh sampah di laut adalah plastik&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     Lebih dari 1 juta binatang laut mati akibat plastik setiap tahunnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     Sekitar 3% plastik di dunia berakhir sebagai sampah yang terapung-apung di permukaanair, termasuk di laut yang menyebabkan kematian banyak ikan paus dan penyu karena sampah plastik tersangkut di pencernaan mereka&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_center"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30441928&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=78398178817&amp;amp;aid=-1&amp;amp;oid=78398178817&amp;amp;id=1009417210"&gt;&lt;img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs033.snc1/3235_1139337476171_1009417210_30441928_4810061_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     Setiap tahun rata-rata orang menghabiskan 700 kantong plastik&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     Supermarket di seluruh dunia memberikan lebih dari 17 milyar kantong plastik setiap tahunnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; Untuk memproduksi plastik, setiap satu tahunnya diperlukan 12 juta barel minyak yang menghasilkan emisi gas rumah kaca perusak lapisan ozon (ditambah lagi sekarang terjadi krisis minyak yang mengakibatkan melambungnya harga BBM)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;     Sampah plastik terbanyak adalah botol dan pembungkus plastik sebanyak 56% dimana 3/4 berasal dari perumahan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;     Orang Amerika menggunakan 2.5 juta botol plastik per jam!&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; Jakarta menghasilkan sekitar 6.000 ton sampah setiap hari, yang lebih dari setengahnya adalah sampah non-organik terutama plastik dan kertas. Sampah kantong plastik yang dibuang di Jakarta dapat menutupi 2600 lapangan sepakbola, baru bisa terurai di alam (biodegradble) dalam waktu 500 - 1.000 tahun, sehingga jika tercecer di tanah akan merusak lingkungan (menghambat peresapan air yang menyebabkan banjir dan merusak kesuburan tanah).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perbandingan waktu daur ulang:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaleng Aluminium ………… 300 tahun&lt;br /&gt;Botol Plastik ……… &gt; 100 tahun&lt;br /&gt;Popok Bayi ………… 100 tahun&lt;br /&gt;Baterei ………… 100 tahun&lt;br /&gt;Cangkir plastik …………… 50 – 80 tahun&lt;br /&gt;Puntung rokok …………… 10 – 40 tahun&lt;br /&gt;Kantong Plastik ………… 10 – 20 tahun&lt;br /&gt;Minyak oli …………….. 10 tahun&lt;br /&gt;Kulit Jeruk ………… 6 bulan&lt;br /&gt;Kertas ………… 2 – 5 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAN MASIH BANYAK LAGI FAKTA MENGERIKAN LAINNYA TENTANG SAMPAH PLASTIK..&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-9126153566139412148?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/9126153566139412148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/facts-about-plastic-wastes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/9126153566139412148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/9126153566139412148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/facts-about-plastic-wastes.html' title='FACTS ABOUT PLASTIC WASTES'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-4955015719785908932</id><published>2009-05-13T03:02:00.008+07:00</published><updated>2009-05-13T03:51:45.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>SEBUAH RENUNGAN TENTANG PERADABAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Artikel tanggapan untuk postingan dari Abdillah Toha)&lt;br /&gt;Oleh: Amiroel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt; Adalah sebuah kebetulan, ketika saya mendapatkan postingan ini saya tengah membaca sebuah buku yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Templar Revelation (Lynn Picknett dan Clive Prince)&lt;/span&gt;. Sampai sekarangpun karena cukup tebal dan daya ingat yang terbatas…belum juga selesai saya baca.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Sekelumit tentang buku tersebut, sebenarnya berisi mengenai investigasi seputar kelompok2 bawah tanah yang oleh gereja dituduh heresi dan berpotensi membongkar sendi-sendi kekristenan yang telah mapan sehingga selalu dimusuhi selama berabad-abad. Tetapi setiap kali membaca, entah kenapa imajinasi saya selalu berjalan dengan arah yang berbeda dari isi buku itu. Hingga akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan yang sama sekali lain, yaitu: Sebuah “spekulasi” dalam benak saya bahwa kemajuan ilmu dan teknologi, bahkan peradaban Islam secara keseluruhan sebenarnya adalah sebuah kemajuan maha hebat yang kiranya relevansinya bisa menjangkau sampai ––paling tidak–– ke abad 18! Cuma 2 abad sebelum perdaban modern di Barat terbentuk!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Tentu, namanya saja sebuah spekulasi, amat sulit untuk membuktikannya karena kurangnya bahan, tetapi saya yakin sekali dengan pikiran saya itu terutama berdasarkan logika2 yang menurut saya pribadi sangat layak untuk dipertimbangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Kembali ke masalah buku di atas, di Eropa telah tumbuh kelompok2 esoteris yang saling jalin-berjalin, di antaranya adalah Biarawan Sion yang kemudian menjadi Ksatria Templar dan akhirnya berkembang menjadi kelompok2 masonik (freemason) sampai sekarang. Kelompok2 bawah tanah ini mempunyai peran yang sangat penting dalam renaisans Eropa. Ksatria Templar mempunyai reputasi sebagai tentara crusade, yang selain banyak membantai pihak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;musuh&lt;/span&gt; tak dipungkiri lagi persentuhan mereka dengan peradaban Islam telah membawa oleh2 yang amat berharga bagi Eropa, yaitu Iptek. Ksatria Templar ini begitu haus ilmu, sehingga saya berkeyakinan bahwa merekalah kelompok progresif yang sejatinya berperan sebagai ‘transisi’ dari Eropa yang gelap ke Eropa yang bangkit menuju ‘peradaban’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Seperti kita ketahui, di masa gelap Eropa gereja sangat anti kemajuan. Sehingga selain karena alasan2 keagamaan, kelompok Ksatria Templar ini pada akhirnya justru dimusuhi dan diburu oleh kekuasaan gereja. Alkemis yang dibawa dari peradaban Islam dipandang sebagai sihir, dan orang2 yang mempelajarinya bisa dibakar hidup2 oleh lembaga inkuisisi. Ksatria Templar sangat menguasai ilmu ini. Mereka juga merupakan arsitek2 hebat dan pembangun gereja2 gothik di Eropa, dan menerapkan ilmu yang dibawa dari ‘Arab’ pula yaitu geometri suci.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara itu, terdapat simpul yang menghubungkan antara 2 tempat di Eropa yang menjadi pintu masuk dari pengetahuan Arab ini. Ajaran2 biarawan sion ataupun kelompok templar berkembang pesat di wilayah provence, Prancis selatan dan Inggris. Perkembangan di wilayah ini menjadi masuk akal, karena Perancis selatan adalah tempat penting bagi kelompok2 heretis yang masih melestarikan tradisi2 spiritualisme kuno-nya walaupun dengan selubung kamuflase. Sementara daerah skotlandia dan inggris pada umumnya, juga merupakan tempat yang relatif nyaman bagi keberadaan kelompok ini, yang ternyata dalam buku2 yang mengulas tentang peradaban Islam kedua wilayah itu disebut2 mempunyai peranan penting pula sebagai tempat yang bersinggungan dengan peradaban Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Jelas sekali kelompok ‘transisi’ ini beroperasi di wilayah tersebut. Mereka terus-menerus memelihara keyakinan heretisnya sembari mennyebarkan pengetahuan ilmiahnya selama berabad2 di eropa. Maka akan sangat mengherankan (tetapi logis) kalau kita akhirnya mengetahui bahwa ternyata para mahaguru biarawan sion adalah orang2 terkenal seperti: Leonardo da Vinci, Robert Boyle, Sir Isaac Newton, Sandro Filipepi (Botticelli) , Robert Fludd-filsuf Inggris, Victor Hugo, maupun Claude Debussy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Ada pula nama2 yang familiar, baik sebagai anggota, pendukung, ataupun simpatisan macam Dante, Shakespeare, Nostradamus, Joan of Arc, Francis Bacon, dll.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Jadi dalam situasi gelapnya Eropa, kelompok2 bawah tanah ini bergerak aktif menyebarkan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang pada saat itu bisa dituduh sebagai tahyul, sihir, klenik, bid’ah dan ilmu orang2 kafir oleh pihak gereja. Baru setelah renaisans dan reformasi berjalan sukses, timbul gairah besar2an, massive dan terbuka untuk mempelajari ilmu pengetahuan di eropa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Namun ada catatan hitam dalam perjalanan penyebaran ilmu pengetahuan ini. Perang salib yang membuat dunia islam menderita, telah membuka cakrawala baru bagi dunia barat. Penghancuran yang meluluhlantakkan Bagdad sampai Andalusia kian menggenapkan penderitaan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Banyak karya2 ilmiah yang disalin dan secara tidak jujur diakui sebagai karya si penyalin. Orang2 Islam yang merangkum ilmu2 dari tradisi Graeco-roman, persia, india dan cina selalu menyebutkan dari mana sumber2 karya tersebut berasal. Lalu merangkumnya, mengolah dan bahkan menciptakan sesuatu yang baru. Tetapi Barat mewarisi tradisi menyebutkan sumber2 seperti itu, hanya pada waktu2 belakangan saja. Pada masa transisi mereka tidak melakukannya, sehingga bagi generasi2 kemudian makin susahlah untuk melacak, apakah ilmu2 atau teori2 yang mereka kemukakan maupun temukan benar2 murni berasal dari mereka atau hanya pekerjaan saduran, salinan dan tiruan semata dari ilmu2 yang berasal dari peradaban islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Selanjutnya, logika macam apa yang membuat saya yakin bahwa peradaban Islam tidak sepenuhnya usang, ketinggalan jaman, bahkan masih cukup relevan bagi dunia ilmu pengetahuan paling tidak sampai abad 18?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, pada saat kejatuhan kerajaan2 Islam baik di bagdad maupun andalusia oleh bangsa bar-bar, hal2 yang selalu dilakukan adalah membakar perpustakaan2 besar di kota2 yang dihancurkan itu. Bisa dibayangkan, menurut riwayat di dalam perpustakaan2 itu terdapat ribuan koleksi buku2 yang telah dihasilkan oleh peradaban Islam. Saat terjadi penghancuran, air sungai diibaratkan menjadi berwarna merah dan hitam. Merah karena darah manusia yang dibantai, hitam karena abu dan tinta dari buku2 yang dibakar serta dimusnahkan itu! Hanya sebagian kecil saja buku2 yang bisa diselamatkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, model2 transfer iptek yang curang seperti di atas, dimana ilmu yang terdahulu dianggap sebagai karya sendiri. Pengakuan hanya datang untuk ilmu2 yang sudah terlanjur dikenal luas, seperti aljabar, buku2 ibnu sina, ibnu rusyd dan lain2 yang merupakan sejumlah kecil saja dari keseluruhan yang bisa kita ketahui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, upaya stigmatisasi yang sistematis untuk memutus rantai kesejarahan dalam memori umat islam. Islam selalu digambarkan sebagai tidak beradab, bodoh dan menyebarkan agama dengan pedang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Alasan2 di atas telah menggelapkan masa lalu yang celakanya tertanam amat kuat ke dalam benak setiap muslim. Kita hanya tahu sedikit saja kehebatan warisan intelektualitas masa silam. Yang kita ketahui hanyalah secuil saja dari keseluruhan pencapaian iptek yang dihasilkan oleh peradaban islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Jika diasumsikan hanya 10% saja buku2 yang bisa diselamatkan dari ribuan koleksi buku2 di perpustakaan2 besar waktu itu, berarti ada 90% ilmu yang tak terlacak sebagai warisan iptek masa lalu! Ketika kita disuguhi bukti2 bahwa ‘ilmuwan ini diilhami oleh si anu’, itu hanya membuktikan 10% saja dari potensi intelektualitas kaum muslim. Lalu, bagaimana dengan 90% potensi intelektualitas yang dihasilkan oleh peradaban Islam? Menjadi sebuah misteri besar…, tentu saja!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Artinya, kita bisa bertanya2 lebih lanjut: &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Jangan2 banyak hal2 yang ditemukan oleh peradaban barat belakangan, sesungguhnya telah ada di masa lalu?&lt;/span&gt;  Atau mungkin saja sebuah temuan baru di barat, sebenarnya sudah digarap ‘sampai hampir matang’ oleh ilmuwan2 muslim sebelumnya. Hal2 yang membuat kita sah2 saja untuk bertanya. Dan bukti2 yang terungkap belakangan, memberikan pembenaran akan absahnya pertanyaan2 semacam itu untuk diajukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika seorang ilmuwan abad 16,17,18 atau bahkan yang lebih baru lagi telah mendasarkan temuannya atas bangunan yang telah tercipta di masa lalu, maka sama saja dengan mengatakan bahwa jangkauan keilmuan masa lalu telah sampai pada abad yang datang belakangan. Hal itu membuktikan betapa tingginya tingkat keilmuan serta peradaban yang dihasilkan oleh kebudayaan atau peradaban masa silam itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Kiranya banyak hal2 yang tak terlacak oleh karena memang sengaja dihancurkan, disembunyikan, dimanipulasi, dicuri dan dipalsukan. Namun ada juga hal2 yang masih bisa dilacak, tetapi ironisnya orang Islam sendiri seolah mempunyai beban psikologis untuk mau mengakuinya. Contohnya adalah tentang musik. Sarjana2 barat pada akhirnya banyak yang menyimpulkan bahwa musik barat adalah warisan langsung musik dari dunia islam (alat2 musik seperti:gitar, harpa dan alat2 petik lain, macam2 alat gesek, piano, organ, macam2 alat tiup,dll dibawa oleh peradaban Islam). Orang2 Islam telah menyempurnakan teori-praktik musik dari peradaban sebelumnya, termasuk menemukan teori2 baru. Hingga tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa musik klasik barat tak akan menemukan bentuknya yang tertinggi tanpa melalui perantaraan ilmuwan2 muslim!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Tetapi sayangnya, banyak orang islam yang justru memandang musik sebagai produk kebudayaan barat, lebih tragis lagi ada yang mengharamkannya! Mungkin mereka tak menyadari, bahwa barat hanya mengenal alat tiup dari tanduk kerbau sebelum mengenal musik dari dunia Islam, yang kedatangannya bahkan mampu membuat para jemaat gereja makin khusuk berdoa dalam lantunan kidung serta irama musik organ-nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Demikianlah kiranya, peradaban yang pernah dihasilkan oleh Islam tidaklah main2. Memang benar bahwa banyak ilmu2 yang dihasilkan oleh peradaban Islam telah ‘digergaji’ sehingga putuslah hubungan kita dengan kesejarahan intelektualitas kita sendiri. Namun sejatinya, kita pantas berkeyakinan bahwa apa yang telah dihasilkan oleh peradaban islam ternyata amat dekat dengan kemajuan yang dicapai abad ini. Sehingga menjadi momentum yang tepat untuk membangun kembali peradaban yang pernah hilang. Ini bukan semata angan kosong dan romantika masa lalu yang sentimentil, tetapi lebih dari itu: Kita adalah umat yang mewarisi tradisi intelektual yang sedemikian dahsyatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Maka pantaslah kalau Ahmadinejad menyuarakan keraguannya atas mitos holocaust dan mencurigainya sebagai agenda tersembunyi untuk kian mengukuhkan penindasan barat terhadap dunia Islam. Mungkin dia perlu juga berkata,” Kami telah mengajari anda membaca, menulis dan berhitung. Kami juga telah mencairkan kebekuan yang membelenggu otak anda, lalu menghibur dengan musik yang membuat anda merasa hidup dan bergembira menatap masa depan. Sekarang, pantaskah kalau kami mendapatkan bara api yang justru melenyapkan kehidupan?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- On &lt;b&gt;Sun, 4/26/09, Abdillah Toha &lt;i&gt;&lt;abto@cbn.net.&gt;&lt;/abto@cbn.net.&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; wrote:&lt;br /&gt;From: Abdillah Toha &lt;abto@cbn.net.&gt;&lt;br /&gt;Subject: [SUARA] What Should be Taught&lt;br /&gt;To: suaraSUARA@yahoogro ups.com,  SuaraHati@yahoogrou ps.com&lt;br /&gt;Date: Sunday, April 26, 2009, 10:05 AM&lt;br /&gt;                   &lt;p&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: center;"&gt;&lt;a rel="nofollow" title="Permanent Link: Early Muslim Science and Invention - Teach Your Children" target="_blank" href="http://darvish.wordpress.com/2008/02/21/early-muslim-science-and-invention-teach-your-children/"&gt;Early Muslim Science and Invention - Teach  Your Children&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Salaam and Greetings of Peace:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;The following information is from the &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://islamic-homeschool.blogspot.com/2008/01/dare-to-know.html"&gt;Islamic  Homeschool Diary blog&lt;/a&gt;, and is reprinted with permission. It is valuable  information not found in Western textbooks. Teach your children about Muslim  scientists and inventions that predated their rediscovery by the West, usually  without credit being given.  And if anyone has any additions or  corrections, please add them in the comments.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first mention of man in flight was by Roger Bacon,  who drew a flying apparatus. Leonardo da Vinci also conceived of airborne  transport and drew several prototypes.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught&lt;/b&gt;: Ibn Firnas of Islamic Spain invented,  constructed and tested a flying machine in the 800’s A.D. Roger Bacon learned of  flying machines from Arabic references to Ibn Firnas’ machine. The latter’s  invention antedates Bacon by 500 years and Da Vinci by some 700 years.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Glass mirrors were first produced in 1291 in  Venice.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Glass mirrors were in use in Islamic Spain as  early as the 11th century. The Venetians learned of the art of fine glass  production from Syrian artisans during the 9th and 10th centuries.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Until the 14th century, the only type of clock  available was the water clock. In 1335, a large mechanical clock was erected in  Milan, Italy. This was possibly the first weight-driven clock.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; A variety of mechanical clocks were produced by  Spanish Muslim engineers, both large and small, and this knowledge was  transmitted to Europe through Latin translations of Islamic books on mechanics.  These clocks were weight-driven. Designs and illustrations of epi-cyclic and  segmental gears were provided. One such clock included a mercury escapement. The  latter type was directly copied by Europeans during the 15th century. In  addition, during the 9th century, Ibn Firnas of Islamic Spain, according to Will  Durant, invented a watch-like device which kept accurate time. The Muslims also  constructed a variety of highly accurate astronomical clocks for use in their  observatories.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; In the 17th century, the pendulum was developed by  Galileo during his teenage years. He noticed a chandelier swaying as it was  being blown by the wind. As a result, he went home and invented the  pendulum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; The pendulum was discovered by Ibn Yunus  al-Masri during the 10th century, who was the first to study and document its  oscillatory motion. Its value for use in clocks was introduced by Muslim  physicists during the 15th century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Movable type and the printing press was invented in  the West by Johannes Gutenberg of Germany during the 15th century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught :&lt;/b&gt; In 1454, Gutenberg developed the most  sophisticated printing press of the Middle Ages. However, movable brass type was  in use in Islamic Spain 100 years prior, and that is where the West’s first  printing devices were made.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;Isaac Newton’s 17th century study of lenses, light and  prisms forms the foundation of the modern science of optics .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; In the 1lth century al-Haytham determined  virtually everything that Newton advanced regarding optics centuries prior and  is regarded by numerous authorities as the “founder of optics.”&lt;br /&gt;There is  little doubt that Newton was influenced by him. Al-Haytham was the most quoted  physicist of the Middle Ages. His works were utilized and quoted by a greater  number of European scholars during the 16th and 17th centuries than those of  Newton and Galileo combined.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Isaac Newton, during the 17th century, discovered that  white light consists of various rays of colored light.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught: &lt;/b&gt;This discovery was made in its entirety by  al-Haytham (11th century) and Kamal ad-Din (14th century). Newton did make  original discoveries, but this was not one of them.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The concept of the finite nature of matter was first  introduced by Antione Lavoisier during the 18th century. He discovered that,  although matter may change its form or shape, its mass always remains the same.  Thus, for instance, if water is heated to steam, if salt is dissolved in water  or if a piece of wood is burned to ashes, the total mass remains unchanged.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; The principles of this discovery were  elaborated centuries before by Islamic Persia’s great scholar, al-Biruni (d.  1050). Lavoisier was a disciple of the Muslim chemists and physicists and  referred to their books frequently.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The Greeks were the developers of trigonometry .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Trigonometry remained largely a theoretical  science among the Greeks. It was developed to a level of modern perfection by  Muslim scholars, although the weight of the credit must be given to al-Battani.  The words describing the basic functions of this science, sine, cosine and  tangent, are all derived from Arabic terms. Thus, original contributions by the  Greeks in trigonometry were minimal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The use of decimal fractions in mathematics was first  developed by a Dutchman, Simon Stevin, in 1589. He helped advance the  mathematical sciences by replacing the cumbersome fractions, for instance, 1/2,  with decimal fractions, for example, 0.5.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim mathematicians were the first to utilize  decimals instead of fractions on a large scale. Al-Kashi’s book, Key to  Arithmetic, was written at the beginning of the 15th century and was the  stimulus for the systematic application of decimals to whole numbers and  fractions thereof. It is highly probably that Stevin imported the idea to Europe  from al-Kashi’s work.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first man to utilize algebraic symbols was the  French mathematician, Francois Vieta. In 1591, he wrote an algebra book  describing equations with letters such as the now familiar x and y’s. Asimov  says that this discovery had an impact similar to the progression from Roman  numerals to Arabic numbers.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim mathematicians, the inventors of  algebra, introduced the concept of using letters for unknown variables in  equations as early as the 9th century A.D. Through this system, they solved a  variety of complex equations, including quadratic and cubic equations. They used  symbols to develop and perfect the binomial theorem.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The difficult cubic equations (x to the third power)  remained unsolved until the 16th century when Niccolo Tartaglia, an Italian  mathematician, solved them.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught: &lt;/b&gt;Cubic equations as well as numerous equations  of even higher degrees were solved with ease by Muslim mathematicians as early  as the 10th century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The concept that numbers could be less than zero, that  is negative numbers, was unknown until 1545 when Geronimo Cardano introduced the  idea.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should he Taught:&lt;/b&gt; Muslim mathematicians introduced negative  numbers for use in a variety of arithmetic functions at least 400 years prior to  Cardano.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; In 1614, John Napier invented logarithms and  logarithmic tables.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim mathematicians invented logarithms and  produced logarithmic tables several centuries prior. Such tables were common in  the Islamic world as early as the 13th century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;During the 17th century Rene Descartes made the  discovery that algebra could be used to solve geometrical problems. By this, he  greatly advanced the science of geometry.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Mathematicians of the Islamic Empire  accomplished precisely this as early as the 9th century A.D. Thabit bin Qurrah  was the first to do so, and he was followed by Abu’l Wafa, whose 10th century  book utilized algebra to advance geometry into an exact and simplified  science.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Isaac Newton, during the 17th century, developed the  binomial theorem, which is a crucial component for the study of algebra.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Hundreds of Muslim mathematicians utilized and  perfected the binomial theorem. They initiated its use for the systematic  solution of algebraic problems during the 10th century (or prior).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; No improvement had been made in the astronomy of the  ancients during the Middle Ages regarding the motion of planets until the 13th  century. Then Alphonso the Wise of Castile (Middle Spain) invented the Aphonsine  Tables, which were more accurate than Ptolemy’s.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim astronomers made numerous improvements  upon Ptolemy’s findings as early as the 9th century. They were the first  astronomers to dispute his archaic ideas. In their critic of the Greeks, they  synthesized proof that the sun is the center of the solar system and that the  orbits of the earth and other planets might be elliptical. They produced  hundreds of highly accurate astronomical tables and star charts. Many of their  calculations are so precise that they are regarded as contemporary. The  AlphonsineTables are little more than copies of works on astronomy transmitted  to Europe via Islamic Spain, i.e. the Toledo Tables.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;The English scholar Roger Bacon (d. 1292) first  mentioned glass lenses for improving vision. At nearly the same time, eyeglasses  could be found in use both in China and Europe.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Ibn Firnas of Islamic Spain invented eyeglasses  during the 9th century, and they were manufactured and sold throughout Spain for  over two centuries. Any mention of eyeglasses by Roger Bacon was simply a  regurgitation of the work of al-Haytham (d. 1039), whose research Bacon  frequently referred to.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Gunpowder was developed in the Western world as a  result of Roger Bacon’s work in 1242. The first usage of gunpowder in weapons  was when the Chinese fired it from bamboo shoots in attempt to frighten Mongol  conquerors. They produced it by adding sulfur and charcoal to saltpeter.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; The Chinese developed saltpeter for use in  fireworks and knew of no tactical military use for gunpowder, nor did they  invent its formula. Research by Reinuad and Fave have clearly shown that  gunpowder was formulated initially by Muslim chemists. Further, these historians  claim that the Muslims developed the first fire-arms. Notably, Muslim armies  used grenades and other weapons in their defence of Algericus against the Franks  during the 14th century. Jean Mathes indicates that the Muslim rulers had  stock-piles of grenades, rifles, crude cannons, incendiary devices, sulfur bombs  and pistols decades before such devices were used in Europe. The first mention  of a cannon was in an Arabic text around 1300 A.D. Roger Bacon learned of the  formula for gunpowder from Latin translations of Arabic books. He brought forth  nothing original in this regard.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The compass was invented by the Chinese who may have  been the first to use it for navigational purposes sometime between 1000 and  1100 A.D . The earliest reference to its use in navigation was by the  Englishman, Alexander Neckam (1157-1217).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim geographers and navigators learned of  the magnetic needle, possibly from the Chinese, and were the first to use  magnetic needles in navigation. They invented the compass and passed the  knowledge of its use in navigation to the West. European navigators relied on  Muslim pilots and their instruments when exploring unknown territories. Gustav  Le Bon claims that the magnetic needle and compass were entirely invented by the  Muslims and that the Chinese had little to do with it. Neckam, as well as the  Chinese, probably learned of it from Muslim traders. It is noteworthy that the  Chinese improved their navigational expertise after they began interacting with  the Muslims during the 8th century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first man to classify the races was the German  Johann F. Blumenbach, who divided mankind into white, yellow, brown, black and  red peoples.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim scholars of the 9th through 14th  centuries invented the science of ethnography. A number of Muslim geographers  classified the races, writing detailed explanations of their unique cultural  habits and physical appearances. They wrote thousands of pages on this subject.  Blumenbach’s works were insignificant in comparison.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The science of geography was revived during the 15th,  16th and 17th centuries when the ancient works of Ptolemy were discovered. The  Crusades and the Portuguese/Spanish expeditions also contributed to this  reawakening. The first scientifically- based treatise on geography were produced  during this period by Europe’s scholars.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim geographers produced untold volumes of  books on the geography of Africa, Asia, India, China and the Indies during the  8th through 15th centuries. These writings included the world’s first  geographical encyclopedias, almanacs and road maps. Ibn Battutah’s 14 th century  masterpieces provide a detailed view of the geography of the ancient world. The  Muslim geographers of the 10th through 15th centuries far exceeded the output by  Europeans regarding the geography of these regions well into the 18th century.  The Crusades led to the destruction of educational institutions, their scholars  and books. They brought nothing substantive regarding geography to the Western  world.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;Robert Boyle, in the 17th century, originated the  science of chemistry.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; A variety of Muslim chemists, including  ar-Razi, al-Jabr, al-Biruni and al-Kindi, performed scientific experiments in  chemistry some 700 years prior to Boyle. Durant writes that the Muslims  introduced the experimental method to this science. Humboldt regards the Muslims  as the founders of chemistry.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Leonardo da Vinci (16th century) fathered the science  of geology when he noted that fossils found on mountains indicated a watery  origin of the earth.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Al-Biruni (1lth century) made precisely this  observation and added much to it, including a huge book on geology, hundreds of  years before Da Vinci was born. Ibn Sina noted this as well . it is probable  that Da Vinci first learned of this concept from Latin translations of Islamic  books. He added nothing original to their findings.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first mention of the geological formation of  valleys was in 1756, when Nicolas Desmarest proposed that they were formed over  a long periods of time by streams.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Ibn Sina and al-Biruni made precisely this  discovery during the 11th century (see pages 102 and 103), fully 700 years prior  to Desmarest.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Galileo (17th century) was the world’s first great  experimenter.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Al-Biruni (d. 1050) was the world’s first great  experimenter. He wrote over 200 books, many of which discuss his precise  experiments. His literary output in the sciences amounts to some 13,000 pages,  far exceeding that written by Galileo or, for that matter, Galileo and Newton  combined.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;The Italian Giovanni Morgagni is regarded as the  father of pathology because he was the first to correctly describe the nature of  disease.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught: &lt;/b&gt;Islam’s surgeons were the first pathologists.  They fully realized the nature of disease and described a variety of diseases to  modern detail. Ibn Zuhr correctly described the nature of pleurisy, tuberculosis  and pericarditis. Az-Zahrawi accurately documented the pathology of  hydrocephalus (water on the brain) and other congenital diseases. Ibn al-Quff  and Ibn an-Nafs gave perfect descriptions of the diseases of circulation. Other  Muslim surgeons gave the first accurate descriptions of certain malignancies,  including cancer of the stomach, bowel and esophagus. These surgeons were the  originators of pathology, not Giovanni Morgagni.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Paul Ehrlich (19th century) is the originator of drug  chemotherapy, that is the use of specific drugs to kill microbes.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught :&lt;/b&gt; Muslim physicians used a variety of specific  substances to destroy microbes. They applied sulfur topically specifically to  kill the scabies mite. Ar-Razi (10th century) used mercurial compounds as  topical antiseptics.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Purified alcohol, made through distillation, was first  produced by Arnau de Villanova, a Spanish alchemist, in 1300 A.D.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Numerous Muslim chemists produced  medicinal-grade alcohol through distillation as early as the 10th century and  manufactured on a large scale the first distillation devices for use in  chemistry. They used alcohol as a solvent and antiseptic.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first surgery performed under inhalation  anesthesia was conducted by C.W. Long, an American, in 1845.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught :&lt;/b&gt; Six hundred years prior to Long, Islamic  Spain’s Az-Zahrawi and Ibn Zuhr, among other Muslim surgeons, performed hundreds  of surgeries under inhalation anesthesia with the use of narcotic-soaked sponges  which were placed over the face.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; During the 16th century Paracelsus invented the use of  opium extracts for anesthesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim physicians introduced the anesthetic  value of opium derivatives during the Middle Ages. Opium was originally used as  an anesthetic agent by the Greeks. Paracelus was a student of Ibn Sina’s works  from which it is almost assured that he derived this idea.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;Modern anesthesia was invented in the 19th century by  Humphrey Davy and Horace Wells.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Modern anesthesia was discovered, mastered and  perfected by Muslim anesthetists 900 years before the advent of Davy and Wells.  They utilized oral as well as inhalant anesthetics.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The concept of quarantine was first developed in 1403.  In Venice, a law was passed preventing strangers from entering the city until a  certain waiting period had passed. If, by then, no sign of illness could be  found, they were allowed in.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; The concept of quarantine was first introduced  in the 7th century A.D. by the prophet Muhammad, who wisely warned against  entering or leaving a region suffering from plague. As early as the 10th  century, Muslim physicians innovated the use of isolation wards for individuals  suffering with communicable diseases.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The scientific use of antiseptics in surgery was  discovered by the British surgeon Joseph Lister in 1865.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; As early as the 10th century, Muslim physicians  and surgeons were applying purified alcohol to wounds as an antiseptic agent.  Surgeons in Islamic Spain utilized special methods for maintaining antisepsis  prior to and during surgery. They also originated specific protocols for  maintaining hygiene during the post-operative period. Their success rate was so  high that dignitaries throughout Europe came to Cordova, Spain, to be treated at  what was comparably the “Mayo Clinic” of the Middle Ages.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;In 1545, the scientific use of surgery was advanced by  the French surgeon Ambroise Pare. Prior to him, surgeons attempted to stop  bleeding through the gruesome procedure of searing the wound with boiling oil.  Pare stopped the use of boiling oils and began ligating arteries. He is  considered the “father of rational surgery.” Pare was also one of the first  Europeans to condemn such grotesque “surgical” procedures as trepanning.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught: &lt;/b&gt;Islamic Spain’s illustrious surgeon, az-Zahrawi  (d. 1013), began ligating arteries with fine sutures over 500 years prior to  Pare. He perfected the use of Catgut, that is suture made from animal  intestines. Additionally, he instituted the use of cotton plus wax to plug  bleeding wounds. The full details of his works were made available to Europeans  through Latin translations.&lt;br /&gt;Despite this, barbers and herdsmen continued be  the primary individuals practicing the “art” of surgery for nearly six centuries  after az-Zahrawi’s death. Pare himself was a barber, albeit more skilled and  conscientious than the average ones.&lt;br /&gt;Included in az-Zahrawi’s legacy are  dozens of books. His most famous work is a 30 volume treatise on medicine and  surgery. His books contain sections on preventive medicine, nutrition,  cosmetics, drug therapy, surgical technique, anesthesia, pre and post-operative  care as well as drawings of some 200 surgical devices, many of which he  invented. The refined and scholarly az-Zahrawi must be regarded as the father  and founder of rational surgery, not the uneducated Pare.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; William Harvey, during the early 17th century,  discovered that blood circulates. He was the first to correctly describe the  function of the heart, arteries and veins. Rome’s Galen had presented erroneous  ideas regarding the circulatory system, and Harvey was the first to determine  that blood is pumped throughout the body via the action of the heart and the  venous valves. Therefore, he is regarded as the founder of human physiology.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; In the 10th century, Islam’s ar-Razi wrote an  in-depth treatise on the venous system, accurately describing the function of  the veins and their valves. Ibn an-Nafs and Ibn al-Quff (13th century) provided  full documentation that the blood circulates and correctly described the  physiology of the heart and the function of its valves 300 years before Harvey.  William Harvey was a graduate of Italy’s famous Padua University at a time when  the majority of its curriculum was based upon Ibn Sina’s and ar-Razi’s  textbooks.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first pharmacopeia (book of medicines) was  published by a German scholar in 1542. According to World Book Encyclopedia, the  science of pharmacology was begun in the 1900’s as an off-shoot of chemistry due  to the analysis of crude plant materials. Chemists, after isolating the active  ingredients from plants, realized their medicinal value.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught&lt;/b&gt;: According to the eminent scholar of Arab  history, Phillip Hitti, the Muslims, not the Greeks or Europeans, wrote the  first “modern” pharmacopeia. The science of pharmacology was originated by  Muslim physicians during the 9th century. They developed it into a highly  refined and exact science. Muslim chemists, pharmacists and physicians produced  thousands of drugs and/or crude herbal extracts one thousand years prior to the  supposed birth of pharmacology. During the 14th century Ibn Baytar wrote a  monumental pharmacopeia listing some 1400 different drugs. Hundreds of other  pharmacopeias were published during the Islamic Era. It is likely that the  German work is an offshoot of that by Ibn Baytar, which was widely circulated in  Europe.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The discovery of the scientific use of drugs in the  treatment of specific diseases was made by Paracelsus, the Swiss-born physician,  during the 16th century. He is also credited with being the first to use  practical experience as a determining factor in the treatment of patients rather  than relying exclusively on the works of the ancients.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught&lt;/b&gt;: Ar-Razi, Ibn Sina, al-Kindi, Ibn Rushd, az  -Zahrawi, Ibn Zuhr, Ibn Baytar, Ibn al-Jazzar, Ibn Juljul, Ibn al-Quff, Ibn  an-Nafs, al-Biruni, Ibn Sahl and hundreds of other Muslim physicians mastered  the science of drug therapy for the treatment of specific symptoms and diseases.  In fact, this concept was entirely their invention. The word “drug” is derived  from Arabic. Their use of practical experience and careful observation was  extensive.&lt;br /&gt;Muslim physicians were the first to criticize ancient medical  theories and practices. Ar-Razi devoted an entire book as a critique of Galen’s  anatomy. The works of Paracelsus are insignificant compared to the vast volumes  of medical writings and original findings accomplished by the medical giants of  Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; The first sound approach to the treatment of disease  was made by a German, Johann Weger, in the 1500’s.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Harvard’s George Sarton says that modern  medicine is entirely an Islamic development and that Setting the Record Straight  the Muslim physicians of the 9th through 12th centuries were precise,  scientific, rational and sound in their approach. Johann Weger was among  thousands of Europeans physicians during the 15th through 17th centuries who  were taught the medicine of ar-Razi and Ibn Sina. He contributed nothing  original.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught:&lt;/b&gt; Medical treatment for the insane was modernized by  Philippe Pinel when in 1793 he operated France’s first insane asylum .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; As early as the 1lth century, Islamic hospitals  maintained special wards for the insane. They treated them kindly and presumed  their disease was real at a time when the insane were routinely burned alive in  Europe as witches and sorcerers. A curative approach was taken for mental  illness and, for the first time in history, the mentally ill were treated with  supportive care, drugs and psychotherapy. Every major Islamic city maintained an  insane asylum where patients were treated at no charge. In fact, the Islamic  system for the treatment of the insane excels in comparison to the current  model, as it was more humane and was highly effective as well.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What is Taught: &lt;/b&gt;Kerosine was first produced by an Englishman, Abraham  Gesner, in 1853. He distilled it from asphalt.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;What Should be Taught:&lt;/b&gt; Muslim chemists produced kerosine as a  distillate from petroleum products over 1,000 years prior to Gesner (see  Encyclopaedia Britannica under the heading, Petroleum).&lt;/p&gt;&lt;/abto@cbn.net.&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-4955015719785908932?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/4955015719785908932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/sebuah-renungan-tentang-peradaban-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/4955015719785908932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/4955015719785908932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/sebuah-renungan-tentang-peradaban-islam.html' title='SEBUAH RENUNGAN TENTANG PERADABAN ISLAM'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-6486175278154528392</id><published>2009-05-13T01:00:00.009+07:00</published><updated>2009-05-13T02:47:07.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi Tepat Guna'/><title type='text'>PENGIRIT BENSIN ALA JOKO SUTRISNO</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat sederhana ini hanya membutuhkan bahan-bahan yang mudah didapatkan serta murah. Anda cuma membutuhkan komponen-komponen berikut untuk membuat rangkaian atau circuit di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lampu sen motor (8-10 watt)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dioda 25 Ampere&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Elektroda dari stainless steel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tabung/botol plastik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kran plastik (bentuk seperti dalam foto) pengatur gas/udara&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selang dan plastik saluran udara&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selang besar (besarnya sama dengan selang bensin)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Susun seperti skema di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnASnvyx3I/AAAAAAAAASU/zooGsuBd6II/s1600-h/BBA+copy.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnASnvyx3I/AAAAAAAAASU/zooGsuBd6II/s400/BBA+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335006659736684402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, pasang elektroda stainless steel (dengan baut yang dilas pada elektroda) ke badan tabung/ botol, alat pengatur udara dan selang besar yang disalurkan ke manifold serta plastik dan selang saluran udara. Kira-kira gambarnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnNYlsd90I/AAAAAAAAATE/QdtypMmJ8R4/s1600-h/dot-ketInternet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnNYlsd90I/AAAAAAAAATE/QdtypMmJ8R4/s400/dot-ketInternet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335021055916242754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Selanjutnya, pasang circuit yang telah dirangkai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnLGn3BhRI/AAAAAAAAAS0/Dxq6kcCrSeM/s1600-h/RangkaianInternet.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnLGn3BhRI/AAAAAAAAAS0/Dxq6kcCrSeM/s400/RangkaianInternet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335018548236485906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasang selang besar keluaran gas dari tabung/ botol ke manifold (jika manifold belum ada lubang udara, maka manifold harus diberi lubang/bor sehingga selang bisa dipasang) seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnNJJGNDBI/AAAAAAAAAS8/urt3MWwt6uU/s1600-h/manifoldInternet.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnNJJGNDBI/AAAAAAAAAS8/urt3MWwt6uU/s400/manifoldInternet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335020790541519890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sangat mudah dan sederhana bukan?! Saya telah mencoba memasang alat ini pada motor dan hasilnya cukup memuaskan. Selain membuat tarikan mesin terasa lebih enteng, alat ini mampu mengiritkan bensin berkisar antara 30-40%. Selamat mencoba!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-6486175278154528392?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/6486175278154528392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/pengirit-bensin-ala-joko-sutrisno-alat.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6486175278154528392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6486175278154528392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2009/05/pengirit-bensin-ala-joko-sutrisno-alat.html' title='PENGIRIT BENSIN ALA JOKO SUTRISNO'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sOBkDBKNwaw/SgnASnvyx3I/AAAAAAAAASU/zooGsuBd6II/s72-c/BBA+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-2026183104646597263</id><published>2008-06-30T23:50:00.008+07:00</published><updated>2009-05-08T01:49:22.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>MENCARI CAPRES DENGAN EKONOMI ALTERNATIF  (Oleh: Amiroel)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Ilmu ekonomi telah mati, begitu kata Paul Ormerod. Sementara itu dalam konteks ke-Indonesiaan, konsep-konsep ekonomi pro-pasar yang diterapkan selama ini ternyata telah gagal menciptakan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Galileo Galilei mewacanakan perubahan yang bersumber dari ilmu pengetahuan di abad-17, tantangan terbesar yang dihadapinya dalam mendobrak nilai-nilai lama itu adalah: Melawan dogma-dogma agama yang menjadi simbol kekuasaan, pengaruh serta kemapanan institusi­onal. Sekarang hal yang sama nampaknya berlaku kembali, meskipun dalam bentuknya yang lain namun lebih ganjil. Karena saat ini siapa­­pun yang menentang konsep ekonomi yang mendasarkan pada mekanisme pasar bebas akan dicap sebagai ‘manusia aneh’, seseorang yang tidak hidup pada jamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pasar bebas dengan meminimalisir atau bahkan meniadakan peran Pe­me­rintah telah diterima bulat-bulat oleh para ekonom sebagai satu-satunya ke­be­naran. Teori-teori ekonomi yang menjadi simbol kemapanan, dan ditopang oleh kekuatan po­litik, keamanan dan budaya itu telah menjelma menjadi dogma-dogma dengan kesa­hihan tak terbantahkan. Kini, praktis berlawanan dengan masa Galileo dulu, ilmu penge­tahuan secara congkak justru telah mengambil alih semuanya menjadi dogma-dogma yang menegasikan seluruh nilai keadilan maupun kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ekonomi secara sepihak telah mengkorupsi seluruh kewenangan untuk mendefinisi­kan keadilan dalam versinya yang sama sekali timpang dan kian tidak dipahami oleh mereka yang memahami keadilan dalam maknanya yang universal. Akhir-akhir ini, perbedaan visi tersebut nyata sekali dalam setiap perdebatan yang berseberangan, misalnya soal subsidi BBM. Pertanyaan besarnya adalah: Keadilan yang bagaimana dan untuk siapa? Karena pada akhirnya si miskin dan si tertindas kian dimiskinkan oleh kebijakan yang mengatasnamakan mereka dan keadilan itu sendiri. Mereka tak pernah lepas dari sasaran manipulasi kata-kata dan disinformasi, sehingga menumpulkan kesadaran mereka atas realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Indonesia kekurangan ekonom-ekonom kreatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Nampaknya ada keengganan bagi penguasa maupun ekonom-ekonom neo-klasik sebagai pendukung rezim, untuk mengakui bahwa mereka telah menerap­kan sistem ekonomi neo-liberal. Bagi negara yang ber-ideologi Pancasila dan UUD’45, konsep-konsep tersebut jelas-jelas telah menyalahi amanat konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut William I. Robinson, dalam model neo-liberal, stabilisasi paket fiskal, moneter, nilai tukar dan ukuran-ukuran sejenis lainnya yang dirancang untuk stabilitas makro-ekonomi biasanya diikuti oleh structural adjustment yang meliputi: a. Libe­ralisasi perdagangan dan keuangan, yang membuka ekonomi pada pasar dunia; b. Dere­gulasi, yang mengalihkan negara dari peran penentu kebijakan (tetapi bukan dari aktifitasnya sebagai pelayan kapital); c. Privatisasi perusahaan-perusahaan yang sebelumnya dimiliki publik yang bisa menghalangi terjadinya akumulasi modal, tentu dengan syarat jika kondisinya lebih menguntungkan bila diprivatisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu kesempatan lain, seorang pejabat yang berwenang dalam pengambilan keputusan di bidang ekonomi pernah berkata,” Kita tidak bisa menjamin kenaikan harga BBM ini, saat ini yang terakhir tahun ini. Karena harga minyak di dalam negeri dipengaruhi oleh minyak mentah dunia. Presiden SBY tidak bisa menentukan harga minyak dunia itu menjadi 45 dollar AS, bahkan Presiden AS George Bush saja tidak bisa menentukan harga BBM ini.” Lebih lanjut dia menandaskan,” Pokoknya kita menaikkan harga BBM tergantung minyak mentah dunia. Dan bila kenaikan minyak mentah dunia sudah tinggi sekali, sama seperti tahun 2005 lalu, kita juga bisa menaik­kan harga BBM dua kali.” (Kedaulatan Rakyat, 28 Mei 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, nampak sekali bahwa pasar telah menje­l­ma menjadi dogma-dogma yang diyakini kebenaran tunggalnya, hingga tidak memung­kinkan adanya kritik, solusi lain, perbaikan maupun pembaharuan. Statement itu juga mengambarkan sebuah ketaklukan luar biasa dan menjebak manusia yang semestinya cemerlang secara intelektual, menjadi manusia yang sangat fatalis sekaligus determinis. Padahal pasar dalam konteks tersebut bagi masyarakat Indonesia tak ubahnya sebagai nasib buruk. Melepaskan diri ke dalam mekanisme pasar berarti menceburkan bulat-bulat ke dalam hutan belantara, dimana hanya si kuat yang akan bertahan dan berkuasa. Kini mereka yang secara mental-intelektual telah ditundukkan, lebih suka menelan nasib buruknya dan enggan membuat perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan privatisasi, sering secara eksesif menyebabkan nafsu untuk menjual semuanya hingga melupakan faktor kedaulatan bangsa. Karena BUMN-BUMN strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang seharusnya diproteksi malahan dilepas­kan begitu saja. Sistem neo-liberal penuh dengan agenda-agenda kapitalisme global yang amat meru­gikan bangsa, melalui elit-elit transnasional yang menguasai peta perpo­litikan bang­sa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem ini, sekali lagi, mempunyai definisi tentang keadilan dan kemakmuran tersendiri yang amat manipu­latif, karena secara sistematis hanya berpihak kepada keuntungan si kuat saja. Akan tetapi dalam waktu bersamaan secara kasat mata telah melakukan pemiskinan yang sangat sistematis pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika memang demikian, apakah sistem yang sejatinya tidak melindungi si le­mah tersebut bisa dipandang sebagai satu-satunya kebenaran  mutlak?  Ataukah sebaliknya, secara sistemik justru mempunyai cacat bawaan yang menyesatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kini yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: Sudah sebegitu parahkah Teknokrat-ekonomi Indonesia hingga demikian loyo dan menjadi tidak kreatif ketika dihadapkan pada seluruh deviasi ini? Tidak adakah kreativitas yang muncul untuk mencairkan seluruh kebekuan yang memperbudak bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah konsep-konsep semacam ekonomi Pancasila ataupun corak-corak yang lebih sosialistik telah lenyap tak bersisa? Kenapa secara konseptual seolah tak ada lagi counter yang secara ilmiah baik teoritis maupun praksis mampu menjadi simbol per­lawanan sekaligus kebangkitan baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, seluruh potensi itu ada. Maka menjadi tugas bagi kaum intelek­tual, ‘ilmuwan-ekonom’ yang kreatif untuk mengeksplorasi serta lebih mematang­kan lagi konsep-konsep alternatif yang bisa menjadi simbol bagi pembebasan manusia Indonesia. Pada akhirnya ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial, harus mene­mukan kembali moralitasnya serta wajah manusiawinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam pemilu tahun depan, memilih Capres atau pemimpin yang menjadi simbol pembebasan dengan konsep ekonomi alternatif menemukan titik momentumnya. Rakyat selayaknya disadarkan untuk memperoleh kembali hak-hak berekonomi­nya yang telah dirampas, sekaligus menuntut negara agar menjalankan kewajibannya dalam menjamin kemakmuran seluruh rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi kepemimpinan, seorang yang memenuhi persyaratan tersebut adalah seorang pemimpin yang tegas, cerdas dan berani, karena dia berkewajiban melindungi seluruh kepentingan nasional. Berani mengatakan ‘tidak’ terhadap tekanan dari kekuatan manapun, jika harus melakukan kebijakan yang merugi­kan rakyat banyak. Tetapi pemimpin yang demikian harus didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat dan tentu saja oleh para ekonom yang mempunyai konsep ekonomi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi rakyat, mereka harus disadarkan memilih pemimpin dengan tidak terpaku pada figuritas yang supervisial. Tetapi paling tidak, mereka harus mempunyai program ekonomi yang menguntungkan bagi masyarakat kecil. Sebuah program yang benar-benar riil dan tidak hanya menjadi janji-janji kosong dalam setiap kampanye. Untuk merubah nasibnya, kini rakyat kecil dipaksa untuk betul-betul berpikir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Amiroel&lt;br /&gt;(pemerhati masalah sosial-budaya)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-2026183104646597263?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/2026183104646597263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/06/demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/2026183104646597263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/2026183104646597263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/06/demokrasi.html' title='MENCARI CAPRES DENGAN EKONOMI ALTERNATIF  (Oleh: Amiroel)'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-737232670607583713</id><published>2008-05-26T00:53:00.005+07:00</published><updated>2009-05-08T01:51:05.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>TEROBOSAN BERDEMOKRASI BAGI RAKYAT INDONESIA (Oleh: Amiroel)</title><content type='html'>&lt;i&gt;Apakah sistem demokrasi bisa memperbaiki perikehidupan setiap warga negara? Apakah mampu berkorelasi positif bagi peradaban bangsa kita? Ataukah demokrasi justru menciptakan kesenjangan antar kelas sosial yang baru, kemiskinan yang makin meluas dan chaos karena konflik-konflik horisontal yang bersifat massif?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan itu mengemuka, karena paska reformasi kita selalu dijejali dengan pemandangan yang kian memprihatinkan dalam kehidupan berbangsa. Kemiskinan meningkat, disebabkan para pemimpin yang terpilih melalui sistem demokrasi tidak cukup mempunyai concern terhadap rakyat kecil. Pasalnya negara secara faktual memang tidak mempunyai konsep yang fokus mengakomodasi sistem ekonomi yang menghidupkan produktivitas rakyat melalui sektor Usaha Kecil-Menengah. Sehingga alih-alih ekonomi kerakyatan yang mendapatkan prioritas utama, tetapi sebaliknya justru kebijakan-kebijakan yang bertumpu pada ekonomi neo-liberal yang selalu menjadi paradigma dalam membangun ekonomi bangsa. Hal itu menunjukkan bahwa pidato-pidato politik megah saat berkampanye, maupun kata-kata penuh kepedulian yang diucapkan pada si miskin sambil menitikkan air mata, tak lebih sebagai drama-heroik para pemimpin semata. Kenyataannya, rakyat tetap saja menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, rakyat yang selalu menderita dan terbebani oleh harga-harga kebutuhan pokok yang melambung itu, justru nampak makin lupa diri. Mereka terjebak dalam euforia demokrasi yang salah kaprah. Sehingga fragmen-fragmen menyedihkan selalu muncul di layar kaca, tatkala rakyat kecil yang tak pernah menyadari dirinya hanyalah sasaran objektivikasi dalam pembangunan, begitu rela dan bersemangat baja saat membela mati-matian para pemimpin yang dipujanya.  Mereka  bersedia  bermandi peluh, air mata, bahkan darah dalam setiap event-event demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kejadian lain yang unik di salah satu daerah tertentu, yang menambah kusut kompleksitas sekaligus absurditas kehidupan berdemokrasi. Ketika seorang Kepala Daerah yang berwawasan progresif dan demokratis berusaha mengakhiri budaya feodal di wilayahnya, tiba-tiba keanehan muncul. Rakyat kebanyakan yang sejatinya bangga atas sikap pemimpinnya itu, justru mendambakan Sang Pemimpin untuk kembali terkungkung dalam sistem serta kultur feodalisme. Sebuah paradoks yang ganjil, mengingat rakyat jelata yang semestinya bersyukur mendapatkan berkah kebebasan, kini secara paradoksal malahan merindukan belenggu-belenggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memaknai Demokrasi Secara Kreatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suara terbanyak adalah salah satu mekanisme dalam sistem demokrasi yang saat ini demikian menguasai benak banyak orang. Padahal pemahaman seputar kata kunci dimaksud dengan mudah bisa dibelokkan untuk mendistorsi makna demokrasi yang hakiki. Karena suara terbanyak memberikan semangat sekaligus hasrat bagi siapapun yang berambisi menja¬di pemimpin (baca: Penguasa), untuk memanipulasi pikiran sebanyak mungkin orang dengan tujuan final memaksimalkan perolehan suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kultur komunal juga membuka jalan bagi massivikasi yang berujung pada demoralisasi demokrasi. Konkritnya, rakyat banyak hanyalah obyek eksploitasi. Baik dengan menjadikannya sebagai obyek penghasil suara, maupun obyek yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan apa saja yang bersifat taktis. Maka jangan heran kalau bentrokan antar massa pendukung mudah sekali terjadi. Massa yang digerakkan untuk ‘berperang’ antar sesamanya tidak pernah berpikir tentang idealisme, hak-hak mereka yang seharusnya dipenuhi oleh para pemimpin terpilih dan kepentingan masa depan  perikehidupan mereka sendiri berkenaan dengan tingginya loyalitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta buram di atas jelas  menodai demokrasi, sehingga selayaknya jika hal itu mampu mendorong kita untuk mencari jalan lain dalam memak¬nai demokrasi secara lebih kreatif. Masyarakat Indonesia yang unik membutuhkan pola pikir dengan paradig¬ma terbalik. Maka sudah waktunya bagi kita untuk menggeser isu demokrasi ke dalam wilayah subjektivitas. Demokrasi tidak lagi dimaknai sebagai suara terba¬nyak, sebalik¬nya demokrasi justru dimaknai sebagai ‘aku’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian berdemokrasi berarti menggeser fungsi pengambilan keputusan ke wilayah personal, artinya otoritas tertinggi berada pada setiap ‘aku-personal’. Dalam bahasa agama manusia adalah khalifah di muka bumi. Maka konsekuensinya: Setiap ‘aku’ adalah pemimpin itu sendiri. Sebagai pemimpin subjeklah yang menentukan masa depan, baik untuk dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, bahkan kehidupan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada level implementasi paling rendah, pola pemikiran semacam ini berimplikasi pada kesadaran setiap personal untuk memilih berdasarkan kepentingannya. Pada taraf pemahaman ini, bahkan permainan money politic-pun tidak akan dengan serta-merta menguntungkan penguasa. Sebagai illustrasi, Subjek X (misalnya berprofesi sebagai Penjahit) adalah pemilih yang diming-imingi oleh Partai A maupun B dengan uang. Partai A memberikan uang Rp. 50 ribu. Subjek X bebas untuk menerima uang tersebut. Tetapi berdasarkan kepentingannya, uang sebesar itu hanya memenuhi kebutuhan hidupnya selama satu hari saja. Maka Subjek X di dalam bilik suara tidak akan pernah mau memilih Partai A.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sedangkan  Partai  B  memandang  Subjek  X  sebagai  Penjahit yang perlu diberi modal, sehingga mereka mengucurkan dana Rp. 10 juta untuk tambahan modal usaha. Berdasarkan kepentingan Subjek X, uang sebesar 10 juta bisa berguna untuk 5 tahun ke depan. Atau bahkan jika usahanya bertambah maju bisa berguna untuk seterusnya, maka otoritas memilih sepenuhnya ada pada Subjek X. Partai B dalam permainan ini lebih menjamin terpenuhinya kepentingan Subjek X dibandingkan Partai A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  level implementasi yang lebih tinggi,  permainan politik diasumsikan lebih bersih, cerdas dan bermartabat. Partai A berkampanye tentang perbaikan ekonomi makro, mengamankan pertumbuhan, pro-pasar, memperbesar devisa, dll. Sementara itu, Partai B berkampanye dalam penyampaian yang lebih elaboratif serta konkrit tentang sektor UKM, kemudahan ijin usaha, kredit lunak dan jaminan sosial.  Subjek X hampir dipastikan akan memilih Partai B, karena selain program Partai A sangat abstrak bagi Subjek X, berdasarkan kepentingannya Partai B dinilai lebih dekat dengan diri dan profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataran yang paling tinggi adalah jika preferensi politik Subjek X didasarkan atas idealisme. Namun tanpa bermaksud mengabaikan persoalan idealisme, jika kapasitas intelektual rakyat yang belum sepenuhnya siap berdemokrasi ini sudah mencapai dua level terdahulu saja, kiranya keadaan demokrasi kita akan jauh lebih baik daripada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, uraian sederhana di atas sebenarnya adalah hakekat filosofis tentang demokrasi yang dibangun dalam wilayah terkecil namun eksistensial, yaitu: subjektivitas. Setiap ’aku-lah’ yang memberi mandat, perintah, tugas dan mendikte para politisi maupun pemimpin. Jika mereka  memenuhi kepentinganku, maka aku memilih mereka. Sebaliknya para pemimpin tidak bisa menyuruhku, menumpahkan darahku untuk kepentingan mereka, apalagi mengorbankanku dengan alasan apapun. Justru para pemimpinlah yang seharusnya berkorban untukku, karena para pemimpin pada hakekatnya adalah pelayan-pelayanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman yang demikian, maka masalah memilih dan tidak memilih menjadi kepentingan serta hak asasi pribadi yang sangat strategis. Dan setiap aku yang mempunyai otoritas mutlak dalam berdemokrasi tiada lain adalah aku bersama aku yang lain, kumpulan aku, yang berarti masyarakat, dan berarti pula rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Amiroel&lt;br /&gt;(Pemerhati Masalah Sosial-Budaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-737232670607583713?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/737232670607583713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/05/demokrasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/737232670607583713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/737232670607583713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/05/demokrasi.html' title='TEROBOSAN BERDEMOKRASI BAGI RAKYAT INDONESIA (Oleh: Amiroel)'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-6748523814609916171</id><published>2008-04-03T00:08:00.004+07:00</published><updated>2009-05-08T01:51:29.038+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>BANGUN KEKUATAN DAN KEYAKINAN DIRI (Oleh: Agus Priyanto)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:130%;" &gt;R.A. Kartini rajin menulis surat sehingga jadilah buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Anne Frank rajin menulis lembaran buku harian sehingga jadilah buku The Diary of Anne Frank. Tampaknya kedua tokoh ini memiliki kekuatan yang membuat mereka secara konsisten terus menulis betapa pun berada di dalam suasana nan menyesakkan dari pembedaan gender di Tanah Jawa hingga kezaliman perang yang diusung orang gila bernama Adolf Hitler di Tanah Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan ini yang patut kita simak serta renungkan. Kekuatan yang hadir setiap saat bagi mereka dalam bentuk sikap intens dan fokus tanpa henti terhadap materi yang mereka gumuli. Kendati kita yakin kedua pribadi diatas tidak pernah memiliki cita-cita bahwa apa yang mereka tulis akan menjelma menjadi buku yang melegenda.&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat kita konklusikan bahwa kekuatan yang mereka miliki secara inheren mengandung visi yang saat itu tak terlihat tapi terasa, tak teraba tapi hadir yang melingkupi diri mereka sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kisah nyata J.K. Rowling penulis serial novel Harry Potter nan kondang ; orang tua tunggal yang sumpek, miskin, suntuk dan sederet hal yang tidak bisa kita katakan baik. Tapi Rowling punya impian bahwa melalui karyanya kelak, kualitas hidup pun akan terangkat ; kalau toh seandainya tidak, dia telah memperoleh kehangatan pemanas ruang yang tidak ada di apartemen sewaannya saat dia menulis di atas berlembar kertas tissue dengan berlama-lama di dalam sebuah cafe. Dan happy ending terjadi pada akhirnya ketika cuma Ratu Elizabeth II yang bisa mengalahkan kekayaan dari tuaian tulisannya yang mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kekuatan ditambah lagi keyakinan melengkapi konklusi kita untuk setiap karya yang dihadirkan ke dalam khazanah dunia ini. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Dan yang jadi masalah, kita tidak cukup kuat dan tidak cukup yakin apakah yang kita lakukan berguna untuk orang lain dan bahkan berguna untuk diri kita sendiri. Rasa ketidak-cukupan inilah yang akhirnya membuat kita mengisi relung mediokritas dalam kehidupan. Maka kita menjadi orang-orang yang serba nge-pas, pas-pas’an serta di-pas’ kan sehingga setiap mimpi untuk menjadi besar dalam alam nyata ditepis. Tanpa perlu direnungkan bahkan untuk sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tampaknya hanya seorang bernama Soekarno yang dimampukan untuk melihat kenyataan ini yang kemudian berseru lantang : ”Letakan cita-citamu setinggi bintang di langit !”. Dan celakanya seruan itu sudah lama berpuluh tahun lalu ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfusius mengatakan :&lt;br /&gt;“ Orang zaman dahulu yang hendak memperbaiki dunia,&lt;br /&gt;Ia lebih dulu berusaha mengatur negerinya ;&lt;br /&gt;Untuk mengatur negerinya ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya ;&lt;br /&gt;Untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dulu membina dirinya ;&lt;br /&gt;Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya ;&lt;br /&gt;Untuk meluruskan hatinya, ia lebih dulu memantapkan tekadnya ;&lt;br /&gt;Untuk memantapkan tekadnya ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya dan&lt;br /&gt;Untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meneliti tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya ;&lt;br /&gt;Dengan cukup pengetahuannya, akan dapat memantapkan tekadnya ;&lt;br /&gt;Dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya ;&lt;br /&gt;Dengan hati yang lurus, akan dapat membina dirinya sehingga dapat membereskan rumah tangganya dan setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai dunia.&lt;br /&gt;Karena itu, dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang sama yaitu mengutamakan pembina diri sebagai pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari pokok yang kacau itu tidak pernah dihasilkan penyelesaian yang teratur baik, karena hal itu seumpama : menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis. Hal ini adalah sesuatu yang tak pernah terjadi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah sebuah Teknik E.D.A.N. yang sangat powerful. Teknik ini adalah jurus silat "kembangan" dari jurus-jurus dasar dalam NLP dan Neurosemantics (Timeline) dan Tony Buzan (Zero Mind Process). Ary Ginanjar dalam ESQ Leadership-nya menyebut ini dengan "1/0". Para sufi, memetaforakan ini dengan sebuah pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan garis sederhana berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;- "-1" - - - - "0" - - - - "+1" -&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari "0" ke "-1" dan seterusnya ke kiri, adalah kumpulan beliefs negatif. Dari "0" ke "+1" dan seterusnya ke kanan, adalah kumpulan beliefs yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak bisa melompat langsung dari dominasi beliefs negatifnya langsung ke berbagai beliefs positif, tanpa melewati titik "0". Titik "0" adalah sebuah titik "tanpa beliefs".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang bisa melewati titik "0" dengan baik dan berhasil, maka ia akan mulai mengganti berbagai beliefs negatifnya dengan berbagai beliefs yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan bergeser dari orang yang berkeyakinan "tidak bisa", menjadi manusia yang merasa "saya bisa". Ia akan berubah dari orang yang mengatakan "terlalu sulit", menjadi orang yang mengatakan "akan ada jalan jika saya……". Begitulah, apapun beliefs negatifnya akan berubah menjadi beliefs yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah berharap bahwa seseorang akan bisa memiliki positive thinking, positive knowing, positive feeling, dan positive doing, tanpa melewati titik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, Imam Ghozali dan para sufi, Buddha, atau Confucius mengajarkan "zero thinking", "zen" dan "nothingness" . Itu sebabnya accelerated learning dan active learning mengajarkan "re-learning" atau "un-learning" . Itu sebabnya Tony Buzan mengajarkan "ZMP alias Zero Mind Process". Itu sebabnya Goleman atau para mindmaster mengajarkan "zero feeling", "meditasi", atau "alpha dan beta brainwave". Itu sebabnya mengapa para guru besar sepanjang zaman mengajarkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Agus Priyanto&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="mailto:priyanto73@yahoo.com"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;priyanto73@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-6748523814609916171?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/6748523814609916171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/04/bangun-kekuatan-dan-keyakinan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6748523814609916171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6748523814609916171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/04/bangun-kekuatan-dan-keyakinan-diri.html' title='BANGUN KEKUATAN DAN KEYAKINAN DIRI (Oleh: Agus Priyanto)'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-6214787835526196564</id><published>2008-03-28T00:16:00.005+07:00</published><updated>2009-05-08T01:51:47.922+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>PERADABAN KITA (1)    (Oleh: Amiroel)</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;Indonesia adalah bangsa yang tengah membunuh dirinya sendiri. Kini dia terus-menerus bergerak demikian pasti. Bukan ke arah kemajuan maupun ke alam pencerahan. Sebaliknya, bangsa malang ini tengah merasakan kenyamanan dalam ketenangannya yang kian pasti sekaligus nyata...., bahwa biduk peradabannya sedang tenggelam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;Carut marut kehidupan sosial di sekitar kita, penderitaan yang tak terkatakan namun selalu membingungkan. Karena kemakmuran segelintir orang seakan menegasi­kan kemiskinan sebagian besar orang. Ketika cara berpikir yang menyimpang, dianggap sebagai akal sehat yang ‘memaku’ kemiskinan dengan mereduksinya menjadi sekedar angka-angka penuh kepalsuan pada tiang pancang reklame badan statistik resmi yang sarat manipulasi dan objektivikasi. Dalam pengertian filosofis, si miskin adalah sasaran objektivikasi yang paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Pengabaian hukum yang telanjang, menyimpangkannya, dan bahkan kini para penegak hukum seolah berlomba-lomba untuk membengkokkannya. Di hampir semua sektor, orang-orang berpesta-pora dalam perilaku korup yang gila-gilaan. Semuanya telah digerogoti oleh mentalitas sema­cam itu, di setiap sendi kehidupan, bahkan di tempat-tempat yang dianggap paling religius sekaligus paling sakral sekalipun. Kalau saja keca­bulan bisa dikatakan sebagai bentuk ekspresi erotisme yang bermuara pada pornografi. Maka korupsi adalah pencabulan paling liar atas keadilan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Negeri ini sebenarnya banyak menghasilkan orang-orang pandai, cerdik-cendekia yang diilhami oleh ide-ide kreatifnya. Seluruh potensi yang sesungguhnya bisa menjadi modal dasar untuk menegakkan peradaban. Tetapi semuanya menjadi sia-sia saja, saat penguasa bersama para komprador-komprador penjual bangsa secara kontradiktif, sadar atau tidak malah memperlakukannya sebagai sebuah ancaman bagi kemapanan. Seluruh potensi kemandirian itu telah dinihilkan oleh para pemuja berhala baru yang berwujud hantu neoliberalisme! Kapasitas intelektual yang brilian hanyalah berujung pada penghambaan diri tanpa reserve terhadap para penindas dan pemilik kapital transnasional. Para pemilik gelar-gelar akademik yang terhormat menjadi terlalu tolol memujanya, sekaligus dengan amat tega mematikan seluruh potensi berpikir kreatif-nya sendiri sebagai manusia yang berdaulat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah bangsa yang penuh ironi. Kaya raya yang ditenggelamkan oleh hutang-hutangnya. Pengekspor minyak yang celakanya penduduknya justru sangat menderita karena minyak! Salah satu produsen minyak goreng terbesar di dunia karena luasnya perkebunan sawit yang dimiliki, tetapi lagi-lagi rakyat harus menjadi penonton yang terabaikan ketika harga minyak goreng tiba-tiba melonjak ke level yang tidak masuk akal. Negara agraris yang kecanduan mengimpor hampir semua komoditi hasil bumi! Ditambah lagi dengan perilaku konsumtif, yang secara sengaja disemaikan serta disuburkan melalui segudang dalih-argumen licik pro-pasar, yang tiada lain didasarkan atas teks-teks kitab suci ekonomi klasik yang kini menjelma menjadi liberalisasi baru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Siapapun boleh ternganga saat kita pada akhirnya tak bisa membuat mesin-mesin secara mandiri, membuat motor, mobil dan pesawat terbang, bahkan untuk sekedar menanam pohon di kebun sendiri secara mandiri! Kita selamanya mengkonsumsi dari negeri lain atas jasa para komprador-komprador domestik yang menjadi budak-budaknya. Lalu mereka yang merasa ahli dalam ‘ilmu ekonomi kapitalis’ siap membenarkannya dalam dogma-dogma ilmu menyesatkan itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Mempunyai dan membuat sendiri produk-produk yang berdaya saing serta sangat dibutuhkan oleh pasar dalam negeri, semua hal yang membentuk kemandirian bangsa, sejak awal selalu dihambat sekaligus dimentahkan dengan tuduhan inefisiensi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Kita akan makin heran dengan perilaku absurd semacam itu: bahwa semua yang tidak mungkin, yang tidak bijaksana untuk dilakukan bagi bangsa ini, adalah: sudah sesuai dengan buku. Lalu kita menjadi patut bertanya: Kenapa untuk hal yang sama (semua yang kita tak bisa itu, yang tak boleh, dihambat, dimentahkan dan yang mustahil bagi negeri ini), bagi negeri Cina adalah justru hal yang paling mungkin dan paling logis untuk dilakukan demi survivalisme mereka?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Bangsa Cina bisa membuat apa saja dan lantas membanjiri pasar dengan produk-produk mereka, tidak perlu berkutat dengan mentalitas budak karena kesetiaannya pada teks-teks buku yang menyesatkan itu. Karena mere­ka menyadari, bahwa untuk survive dan berjaya, ternyata tidak cukup hanya dengan bermodal pandai saja. Tetapi lebih dari segalanya mereka sangat menghargai ide-ide kreatif yang muncul dan tumbuh dalam otak-otak mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Sehingga menjadi sebuah pemandangan yang sangat jauh bertolak belakang saat membandingkan keduanya, padahal kalau dipikir kapasitas intelektual bangsa kita tak kalah dari mereka. Potensi kekayaan tambang kita, bahkan kekayaan alam secara keseluruhan bangsa kita juga tak kalah dibandingkan dengan bangsa Cina. Dan pada akhirnya kita tak bisa berdalih lagi dengan jumlah penduduk, karena negeri Cina harus lebih banyak mendistribusikan rezekinya untuk mulut-mulut anak manusia yang jumlahnya lebih dari semilyar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;*Amiroel&lt;br /&gt;(pemerhati masalah sosial-budaya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-6214787835526196564?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/6214787835526196564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/03/peradaban-kita-1_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6214787835526196564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/6214787835526196564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/03/peradaban-kita-1_28.html' title='PERADABAN KITA (1)    (Oleh: Amiroel)'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9192559233617897408.post-8899761023290528299</id><published>2008-03-28T00:06:00.004+07:00</published><updated>2009-05-08T01:52:03.804+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hot Articles'/><title type='text'>PERADABAN KITA (2)    (Oleh: Amiroel)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;Ada apa dengan bangsa ini?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;Dari perjalanan sejarah terlihat jelas bahwa akhir orde baru adalah fase stagnasi dan penurunan yang kian pasti peradaban kita. Keruntuhan orde baru merupakan titik dasarnya. Ide-ide reformasi dimaksudkan sebagai iktikad baik untuk membangun pondasi baru bagi sebuah peradaban yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;Namun kenyataan berkata lain. Peradaban kita secara faktual sudah runtuh! Kita tak punya pegangan sama sekali untuk menegakkannya kembali. Kita tak punya kontrol dan rem untuk menahan laju keruntuhan biduk peradaban bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Maka kalau seorang Albert Camus saja pada kurun Perang Dunia II menyatakan ini: Perancis dan Eropa sekarang harus menciptakan suatu peradaban baru atau jika tidak akan binasa. Apakah kita akan menjadi terlalu sombong untuk tidak sudi mengakui, bahwa keadaan kita sebenarnya jauh lebih parah lagi dari itu?! Orang Perancis mengakui carut-marut peradabannya saat dicabik-cabik peperangan yang disulut oleh bangsa Jerman. Sebuah chaos dan penderitaan yang ditimpakan bangsa lain atas mereka. Tetapi bangsa ini sungguh-sungguh jauh lebih hebat lagi! Karena peradaban kita sedang mengalami situasi gawat-darurat justru oleh ulah diri sendiri. Yaitu napsu tak terbendung untuk membu­nuh diri. Bangsa Indonesia seperti pecandu narkotik dalam bentuk lain!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Sehingga menjadi sangat logis jika di saat yang demikian sempit serta kritis ini, kita harus mulai membangun sebuah kesadaran baru. Kita harus bangkit dari puing-puing kehancuran. Dengan kata lain, perlu dipersiapkan dan dibangun sebuah peradaban bagi bangsa ini yang sama sekali baru!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Maka kepercayaan diri yang kuat harus dikembangkan dan ditularkan pada semua orang, bahwa sebuah peradaban bisa diciptakan dan direkayasa sejak awal. Namun pertama kali hal itu menuntut adanya sebuah kesadaran sejarah dan mentalitas baru yang berkesadaran, bahwa kehidupan saat ini benar-benar merupakan suasana kegelapan bagi kita. Jahiliahnya bangsa Indonesia. Sebuah situasi yang terbentuk, selain karena kungkungan peradaban sendiri yang merosot sampai ke titik nadir, tetapi juga oleh tekanan eksternal lain dari peradaban barat yang bersifat merusak sekaligus menghisap si lemah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Merubah diri sendiri, merubah wajah peradaban kita adalah sebuah pilihan pamungkas demi survivalisme. Hidup atau hancur sama sekali! Dan untuk membina serta membangunnya perlu ketelitian, kejelian, kesadaran dan pemahaman akan adanya dua penopang inti yang mendasari sebuah peradaban yang kuat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Kualitas Keilmuan. Kualitas keilmuan meliputi seluruh bidang yang menopang, mempertahankan dan memajukan seluruh aspek-aspek keduniawi­an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;Kualitas Spiritual. Kualitas spiritual mencakup seluruh aspek mentalitas, moralitas dan lain sebagainya, sebagai bagian dari aspek spiritualitas dalam arti luas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;Kenapa sebuah peradaban ditentukan oleh dua kualitas di atas? Kita perlu melihat ke Barat dalam hal ini. Pada hakekatnya peradaban Barat dengan segala kemajuannya ditopang oleh pondasi yang pincang dan telah mempunyai cacat bawaan yang sangat krusial. Pera­daban barat dilahirkan dari rahim sekularisme. Ternyata arah kemajuan dan titik kulminasi kejayaannya bersifat sangat merusak. Kehilangan wajah manu­sia­wi­nya karena menciptakan alienasi pada manusia, melahirkan penin­dasan serta penghisapan terhadap yang lainnya, terutama si lemah.&lt;br /&gt;Kedua penopang di atas dimaksudkan untuk memberikan pondasi yang sangat kokoh terhadap peradaban yang hendak dituju dan diciptakan. Keduanya adalah perimbangan yang telah dilupakan dalam ruh peradaban barat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Perimbangan tersebut (kualitas keilmuan dan kualitas spiritual) meng­indikasikan sebuah peradaban yang bersifat antitetis dan sama sekali tidak didirikan atas dasar pondasi sekularisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Seluruh arah maupun warna yang dibuat dalam perjalanan peradaban yang hendak dicapai harus selalu dikontrol, setia, dan diselaraskan dengan dua kualitas&lt;br /&gt;penopangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya hendak dibentuk sebuah peradaban agung yang sangat kuat, kokoh, namun berwajah manusiawi yang sangat bersahabat, mulia dan tidak merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi perlu diingat sebelumnya, bahwa tidak ada peradaban yang sempurna. Selain atas dasar alasan-alasan yang dijelaskan secara ilmiah oleh Ibnu Kaldun tentang peradaban, maka hasil yang bisa dicapai secara maksimal pada hakekatnya hanyalah pencapaian puncak kejayaan peradaban pada titik optimum-nya saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Ada pula kemungkinan bahwa penyelarasan dua kualitas yang meno­pang peradaban tadi akan memberikan dampak adanya perlambatan atau menjadi lebih lamban dalam hal progresivitas. Keseimbangan dua kualitas tersebut juga harus selalu dijaga, karena ketidakseimbangan, disharmoni keduanya bisa mengaki­bat­kan kerusakan, bahkan kehancuran peradaban.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tantangan bagi setiap manusia Indonesia yang berpikir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seluruh permasalahan serta tema-tema yang telah disajikan di atas adalah merupakan tantangan bagi seluruh filosof, seluruh kaum intelektual/ cen­dekiawan yang visioner, untuk menyumbangkan dan mengembangkan seluruh ide-ide kreatif yang mendasar dan memperkaya pondasi filosofis radikal yang merupakan penopang awal peradaban yang hendak dibentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bangsa ini lalai, meremehkan dan mengabaikan seluruh kesem­patan (momentum) dalam suasana kesempitan ‘waktu peradaban’ yang terus berdetak ini, maka yang terjadi sebenarnya adalah: eksistensi bangsa inilah yang tengah dipertaruhkan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kita adalah manusia masa kini yang percaya penuh pada kemampuan diri sendiri. Jangan pernah lagi percaya pada candu-candu yang telah mencekoki pikiran kita selama ini, maka jangan pernah percaya begitu saja pada nilai-nilai usang, kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno masalalu, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam. Perlu dicatat bangsa ini sangat gemar mensintesis, memodifikasi, menambal sulam seluruh nilai-nilai. Sehingga menjadikannya ideal dalam menara gading tetapi sangat bertolak belakang dalam implementasinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;Membuat sesuatu yang sama sekali baru akan memberikan kegairahan serta semangat luarbiasa untuk membuat perubahan. Yang eksis hanyalah manusia saat ini yang berkehendak untuk merubah dan mencipta. Sebab kita tidak mencari akar, tetapi justru kita -saat ini juga- tengah merajut dan menjalin akar dari peradaban itu sendiri! Akar dari peradaban besar yang hendak diciptakan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;*Amiroel&lt;br /&gt;(pemerhati masalah sosial-budaya)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9192559233617897408-8899761023290528299?l=amiroelstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/feeds/8899761023290528299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/03/peradaban-kita-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/8899761023290528299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9192559233617897408/posts/default/8899761023290528299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amiroelstudio.blogspot.com/2008/03/peradaban-kita-2.html' title='PERADABAN KITA (2)    (Oleh: Amiroel)'/><author><name>AmiroelStudio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18017253742455832415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp3.blogger.com/_sOBkDBKNwaw/R1JGpcZaiOI/AAAAAAAAAAU/4ATtBIL5SPs/S220/Posemir.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
